Hadapi Habib Rizieq pakai alutsista keliling kota, intel TNI dipertanyakan

382
Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Foto Kodam Jaya

TNI belakangan melakukan sejumlah tindakan tegas, salah satunya mencopoti baliho tokoh sentral FPI Habib Rizieq. Rupanya, tindakan tegas TNI dilakukan berkat laporan intel soal potensi gesekan di bawah atas penolakan Habib Rizieq.

Terkait hal ini, anggota Komisi I DPR RI Fraksi PPP, Syaifullah Tamliha, menyoroti kinerja intel TNI soal fenomena kehadiran Habib Rizieq ke Tanah Air. Menurut Syaifullah, jika mengacu laporan yang ada, intel yang dimiliki TNI dianggap tak bekerja dengan baik dan tak profesional.

Dia justru heran mengapa TNI baru ribut saat ini, bukan sejak awal sebelum kehadiran Rizieq ke Tanah Air. “Mestinya intel itu bisa membaca sejak awal kemungkinan banyaknya penyambutan Rizieq Shihab di bandara. Kemudian maulid yang besar-besaran yang digelar Habib Rizieq. Semestinya lakukan pencegahan sejak awal,” kata dia di Apa Kabar Indonesia, disitat Sabtu 21 November 2020.

Hal sebaliknya justru terlihat saat ini, di mana intel TNI seperti kepanikan menghadapi Habib Rizieq. Sedangkan info-info yang dia peroleh selama ini, justru tidak bermanfaat.

Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta
Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Foto Antara/Muhammad Iqbal

“Harusnya intel sudah berikan info ke Panglima TNI, begini, Pak Rizieq akan datang, kemungkinan akan ada ratusan ribu orang yang jemput. Ini enggak, malah TNI ikut-ikut pula menjemput ke bandara,” kata dia.

TNI jangan rusak yang ditanam Jokowi

Di satu sisi, Syaifullah juga menganggap, jangan sampai tindakan TNI sekarang ini, seperti mencopoti baliho Habib Rizieq, dengan menggunakan alutsista keliling kota, justru merusak apa yang sudah dipupuk Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto.

Sebab seperti kita tahu, Indonesia tengah melakukan kerjasama militer dengan sejumlah negara asing, mulai dari Rusia, Amerika, dan sebagainya. Nah, jika alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI justru dipakai untuk keliling kota, akan buruk reputasinya.

“Bisa menimbulkan interpretasi, mengkhawatirkan untuk hak asasi manusia. Apa yang dirintis presiden dan menhan bisa buyar karena keteledoran TNI itu.”

Mobil rantis TNI
Mobil rantis TNI Foto: IG @ariefnoviandi

Maka itu, dia pun berharap agar intel TNI bisa meningkatkan keprofesionalitasannya. Lakukan banyak hal yang lebih baik. Andaipun, katanya, membutuhkan anggaran, akan didukung oleh DPR.

“Saya tahu, Bais itu berapa giga sih, BIN itu berapa giga, Intelkam Polri berapa giga, saya enggak perlu bicara di sini, karena itu rahasia negara,” katanya.

Pangdam berlebihan

Kritik keras terhadap TNI juga disampaikan Wakil Koordinator Kontras Rivanlee Anandar. Menurut dia, tindakan dan pernyataan TNI soal Habib Rizieq dan FPI belakangan jelas berlebihan.

Kata Rivanlee, alasan intelijen untuk melakukan langkah-langkah meredam FPI dan Habib Rizieq, dianggap tidak dibenarkan.

Sebab TNI mesti melalui kewajiban-kewajiban yang ada. Semisal, ada pelaporan terlebih dahulu, ada keputusan politik dulu, dan semua harus dilakukan sesuai koridor.

“Percuma ada UU Ormas kalau begitu, di mana kewajiban Polisi dan Satpol PP tak diperhatikan,” kata dia di kesempatan yang sama.

Ditanya apakah operasi militer selain perang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik, kata dia bisa. Namun harus ada persetujuan Presiden dan DPR. Tetapi jika itu tidak ada, artinya Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman dinilai tidak menjalankan koridor hukum yang ada.

Adapun kandungan arahan Presiden Jokowi baru-baru ini kepada Satgas Covid-19, dan Mendagri, dinilai tak perlu diterjemahkan atas inisiatif Pangdam.

“Itu bukan ranahnya TNI, dia hanya soal kedaulatan dan pertahanan negara. Kalaupun soal pembubaran yang harusnya ngomong bukan Pangdam, bahaya kalau Pangdam yang ngomong itu, bisa jadi ancaman kebebasan berserikat dan berkumpul,” katanya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...