Habib Novel Tuding BPIP Itu Komplotan Faham Komunis

691
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Korlabi, Novel Bamukmin/Net

JAKARTA- Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi terus memicu polemik karena dianggap kontroversial.

Dalam pernyataannya, Yudian menyebut, musuh terbesar Pancasila adalah agama.

Atas pernyataannya itu, kecaman dari berbagai pihak pun dialamat kepada mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga.

Salah satunya kecaman itu datang dari Ketua Media Center Persaudaraan Alumni 212 Habib Novel Chaidir Hasan.

Pria yang akrab disapa Habib Novel itu geram dengan ulah anak buah Jokowi. Ia pun kemudian menuding bahwa bahwa kepala BPIP itu berfaham komunis.

“Itu kepala BPIP sepertinya diduga kuat sudah kerasukan paham komunis,” kata Novel saat dikonfirmasi Pojoksatu, Kamis (13/2).

Menurut anak buah Habib Rizieq itu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebenarnya tidak ada fungsinya terhadap pancasila itu sendiri.

Bahkan ia menilai, para anggota BPIP berkedok pancasila. Nyatanya, mereka yang meginjak- injak pancasila.

“Mereka kedok pancasila karena orang beragama pasti paham dengan lahirnya pancasila. Itu harus dibubarkan BPIP,” sindirnya.

Sebelumnya, Yudian Wahyudi mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, telah diterima oleh mayoritas masyarakat.

Hal itu seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah, sejak era 1980-an.

Namun, memasuki era reformasi, asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam.

Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

“Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif,” kata Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi.

Belakangan, katanya, juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri, yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden.

Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politikus yang disokongnya, mereka pun kecewa.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya.”

“Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” ucap Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta ini.

(fir/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...