Gus Yaqut: Tugas Ansor Jadi Ringan

649

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi terbentuknya Kabinet Indonesia Maju era Presiden-Wakil Presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Pria yang karib disapa Gus Yaqut itu mengapresiasi Jokowi yang memberikan penekanan dan perhatian serius terhadap masalah berkembangnya radikalisme di masyarakat, khususnya di beberapa institusi pemerintah.

Dia menilai Jokowi sangat serius untuk mengatasi berkembangnya radikalisme atau merebaknya ideologi radikal.

“Ini terlihat dengan ditugaskannya secara khusus menkopolhukam, menhan, mendagri dan menag untuk ikut menangani masalah radikalisme di masyarakat, khususnya di lingkup kementerian masing-masing,” kata Gus Yaqut, Jumat (25/10).

Menurut Gus Yaqut, pihaknya berterima kasih karena pemerintah terlihat serius menangani masalah radikalisme yang sudah sangat mencemaskan.

“Tugas Ansor jadi ringan sekarang karena pemerintah akan serius menangani masalah radikalisme. Selama ini Ansor dan Banser ikut terjun menghadapi kelompok radikal dan intoleran karena merasa negara tidak serius hadir,” imbuh Gus Yaqut.

Dia menjelaskan, saat ini pihaknya akan melakukan penguatan internal, konsolidasi, memperkuat kaderisasi, dan melakukan upaya-upaya kemandirian organisasi.

Untuk merespons hal itu, kata Gus Yaqut, dalam waktu dekat ini pihaknya akan menggelar rapat koordinasi nasional (rakornas) yang akan dihadiri pimpinan GP Ansor seluruh Indonesia.

Rakornas diadakan sebagai langkah konsolidasi, penguatan kaderisasi, dan kemandirian organisasi.

“Terkait kemandirian organisasi, misalnya, saya mendorong semua kader Ansor di seluruh Indonesia untuk melakukan berbagai usaha pengembangan ekonomi kader. Pengembangan ekonomi kader ini sesuai dengan visi dan misi Ansor terkait kemandirian organisasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, NU memiliki tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (kebangkitan nasional), Taswirul Afkar (artikulasi pemikiran), dan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan saudagar/ekonomi).

Terkait dengan Nahdlatul Wathan, kata dia, tanpa harus bicara NKRI harga mati, di dalam dada dan kesadaran hal itu sudah ada di seluruh kader.

Untuk Taswirul Afkar, lanjutnya, keluarga besar NU sudah banyak melahirkan pemikir atau cendikiawan.

“Nah, sayangnya, pilar ketiga yakni Nahdlatul Tujjar yang masih belum digarap serius. NU masih minim pengusaha. Inilah yang tengah serius digarap Ansor. Kami masih berusaha melahirkan pengusaha-pengusaha yang asli dari NU, dalam konteks ini yang lahir dari Ansor,” katanya. (jpnn)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...