Gara-gara Dua Hal Ini, Gubernur Dituding Anti Dialog Masalah Rakyat

252
Unjuk rasa yang terjadi di gerbang Kantor Gubernur beberapa waktu lalu.

MAKASSAR — Ada dua persoalan yang saat ini terus diminta untuk dilaksanakan oleh Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA). Masalah yang pertama adalah permintaan pemindahan jenazah Covid-19. Jenazah itu bernama Nurhayani Abram, warga asal Bulukumba yang dinyatakan negatif setelah dilakukan swab test.

Hal itu terus didesak oleh suami almarhumah, Andi Baso Ryadi, beserta beberapa anak kandungnya. Berkali-kali ingin berdialog dengan NA untuk mendengarkan aspirasinya.

“Intinya Pak Gubernur ini anti dialog dengan segala permasalahan rakyat Sulsel. Dia berjalan sendiri dengan pendapat dan pikirannya tanpa mau mendengar, dan tahu realita lapangan yang ada,” kata Andi Baso, Kamis (27/8/2020).

Pada Kamis (13/8/2020) lalu, Dia bersama anak-anaknya dan dikawal oleh puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa.

Mereka menuntut ingin bertemu dengan NA untuk meminta kejelasan soal permintaannya, memindahkan jenazah istrinya dari kompleks pemakaman Covid-19 ke, pemakaman keluarga, di Bulukumba.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Ichsan Mustari, mengatakan bahwa jenazah yang dikuburkan di pemakaman umum covid-19 di Macanda, Kabupaten Gowa bisa saja dipindahkan.

Akan tetapi, hal tersebut belum bisa dilakukan sekarang. Dirinya menuturkan, jenazah yang ada di Macanda bisa dipindahkan pihak keluarga setelah wabah Covid-19 ini berakhir.

“Saya kira bisa (Dipindahkan) tetapi kita telah tetapkan setelah covid-19 selesai,” kata dr Ichsan.

Masalah kedua ialah soal polemik nelayan Pulau Kodingareng, yang menuntut NA mencabut izin tambang pasir PT Boskalis. Para nelayan menganggap tambang itu mengurangi hasil tangkapannya.

Bahkan, mereka sempat nginap selama sehari di pintu gerbang kantor Gubernur Sulsel, pada Kamis (14/8/2020) lalu.

Namun sia-sia. Usaha mereka bertemu dengan orang nomor satu di Provinsi Sulsel tidak terpenuhi.

“Sejak Juli, saya hanya bisa dapat ikan tenggiri hanya seekor saja yang beratnya 3 kilogram. Sebelum ada penambang, bisa dapat tujuh ekor yang harganya Rp50 ribu per ekor,” kata seorang nelayan, Suwandi.

Nurdin Abdullah mengatakan, pihaknya telah memberi penjelasan kepada masyarakat yang merasa terdampak akibat penambangan pasir yang dilakukan kapal Boskalis guna membangun proyek strategis nasional Makassar New Port (MNP).

“Karena dia (kapal Boskalis) juga memiliki izin sesuai dengan persyaratan, jadi apa yang dilanggar?,” ucapnya.

“Kita sudah jelasin, tapi mereka belum mengerti, justru kalau kita batalin izinnya orang kita bisa dituntut. Tunjukkan apa kesalahan dari penambang,” bebernya.

Dalam proyek pembangunan Makassar New Port (MNP), dia menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan Perda yang dipersyaratkan jarak antara kawasan tambang dan daratan di atas 8 mil.
“Zonasi 8 mil mereka boleh menambang, jadi tidak lagi di pinggir pantai. Kalau dulu kan kita di linggir pantai. Ini tidak kelihatan kok dan dia juga nambang di luar yang banyak pasir,” jelas Nurdin. (ishak/fajar)

Sumber Berita / Artikel Asli : Fajar

 

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...