Gagal Diterapkan di Malaysia dan Thailand, PDIB: Skema INA CBGs Harus Diganti

270
BPJS

Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) menyoroti skema Indonesian Case Base Groups (INA CBGs) yang diterapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan selama ini. Pasalnya, metode skema tersebut belum berhasil diterapkan.

“Skema INA CBGs ciptaan Malaysia yang dibeli oleh Indonesia. Ini harus diganti,” ujar Ketua Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB), James Allan Rarung dalam keterangan di Jakarta, Senin (12/11/2018).

Sistem tersebut, menurut James, gagal diterapkan oleh Malaysia dan Thailand untuk melayani jaminan kesehatan masyarakatnya.

James menerangkan, dalam skema INA CBGs, jasa kesehatan dibayar dalam bentuk gelondongan supaya lebih murah pembiayaannya. Nantinya biaya yang sudah dibayarkan untuk jasa tenaga medis, penggunaan alat-alat, pembelian obat, dan operasional manajemen.

“Ternyata di lapangan fasilitas kesehatan juga tidak mau rugi. Selain itu dana yang dibayarkan juga sering telat,” katanya.

Hal senada diungkapkan Koordinator BPJS Watch Timboel Siregar. Ia mengatakan, persoalan muncul karena diduga kuat paket pembiayaan INA CBGs yang diterapkan BPJS Kesehatan kepada sekitar 2400an rumah sakit di seluruh Indonesia menyebabkan peserta mendapatkan pelayanan pengobatan ‘under-treatment’.

“Penanganan ini disebabkan karena paket yang diberikan pemerintah kepada rumah sakit, masih belum masuk nilai keekonomian yang mereka terapkan,” jelasnya.

Karena itu, pihaknya berharap ada komunikasi antara pemerintah dan pihak rumah sakit untuk membicarakan kembali skema INA CBGS yang selama ini diterapkan. “Agar bisa diterima nilai keekonomiannya,” katanya. (nas) indopos

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here