Forbes: Malaysia Tidak Bisa Melarikan Diri Dari China

479

Malaysia akan menghidupkan kembali proyek transportasi dan properti yang didukung China senilai 34 miliar dolar AS. Proyek itu sempat dihentikan pada tahun 2017.

Hal itu dipastikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad pada Jumat pekan lalu (19/4).

Dikabarkan Channel News Asia, proyek yang dihidupkan kembali adalah pembangunan Bandar Malaysia senilai 34 miliar dolar AS di Kuala Lumpur dan jalur kereta api yang akan membentang dari pantai timur ke barat Malaysia.

Langkah Mahathir untuk menghidupkan kembali proyek dengan China mengundang sorotan tersendiri. Pasalnya, hal itu bertentangan dengan sikap yang dia tunjukkan tidak lama setelah kembali duduk di kursi Perdana Menteri Malaysia.

Mahathir pada saat itu mengirim pesan kuat ke Beijing tentang keinginan dan tekadnya untuk meninjau ulang atau membatalkan proyek-proyek dengan China di negeri jiran tersebut.

Mahathir ingin Malaysia menghindari perangkap utang China, yang telah membuat negara-negara lain tidak punya pilihan selain menyerahkan kendali proyek berhutang kepada Beijing.

Namun, penentangan Mahathir terhadap China tidak bertahan lama. Forbes akhir pekan kemarin (Minggu, 21/4) merilis artikel berjulul Malaysia Cannot Escape From China. It’s Too Late, yang merupakan opini dari kontributor bernama Panos Mourdoukoutas.

Dia adalah seorang Profesor dan Ketua Departemen Ekonomi di LIU Post di New York. Dia juga mengajar di Universitas Columbia dan kerap menerbitkan beberapa artikel di jurnal dan majalah profesional dunia.

Dalam artikel itu, dia menjelaskan bahwa Malaysia sudah “terjerat” dalam jaring China, dan tidak ada jalan keluar. Langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah membawa Beijing ke meja perundingan, dan mencoba untuk mendapatkan penawaran yang lebih baik untuk proyek yang sedang berjalan.

Karena itulah, langkah terbaik yang bisa dicapai Mahathir adalah membawa Beijing kembali ke meja perundingan untuk memangkas biaya proyek investasi yang ditugaskan kepada kontraktor China.

Pekan lalu, China sepakat untuk memotong biaya proyek East Coast Rail Link hingga sepertiga. Minggu ini, kedua negara telah sepakat untuk menghidupkan kembali proyek Bandar Malaysia dengan kontraktor asli, yakni perusahaan patungan antara perusahaan Malaysia Iskandar Waterfront Holdings dan China Railway Engineering Corp (CREC), dengan beberapa modifikasi. Seperti pembangunan 10.000 unit rumah yang terjangkau, dan penggunaan sumber-sumber lokal.

Lalu, apa yang membuat Malaysia melembutkan nadanya di China? Tentunya banyak faktor yang melatarbelakanginya. Namun salah satunya adalah bahwa ada banyak biaya “tenggelam” untuk proyek yang sedang berjalan dan akan sulit untuk menemukan sumber pembiayaan alternatif untuk melanjutkannya.

Bukan hanya itu, faktor lainnya kemungkinan adalah, ada ketergantungan Malaysia pada China untuk ekspornya.

Tahun lalu, China adalah pasar ekspor terbesar untuk Malaysia (yakni 42,5 miliar dolar AS), diikuti oleh Singapura (35,7 miliar dolar AS), dan Amerika Serikat (33,1 miliar dolar AS).

Hal itu memberi Beijing pengaruh besar terhadap perilaku “irasional” apa pun oleh Malaysia.

Menurut data Tradingeconomics.com, secara kebetulan, ekspor Malaysia turun secara tak terduga belakangan ini, yakni sebesar 5,3% setiap tahun menjadi MYR 66,6 miliar pada Februari 2019, setelah 3,1% pada Januari dan kehilangan konsensus pasar sebesar 1,4%,. Penjualan turun untuk produk berbasis minyak kelapa sawit dan minyak sawit, produk minyak sulingan, minyak mentah, kayu & produk berbasis kayu dan karet alam. [] rmol

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here