Effendi Ghazali Tenangkan Rocky Gerung yang Dianggap Marah karena Tak Pernah Diundang ke Istana

437

Sesama pengamat politik, Effendy Ghazali terlihat menenangkan Rocky Gerung dalam program YouTube Negeri Jernih, Kamis (21/2/2019).

Hal ini bermula saat pembawa acara Iwet Iwel bertanya pada Rocky tanggapannya soal banyaknya aktivis yang masuk ke istana dan menjadi bagian dari istana.

Lalu Rocky sempat menjelaskan dan memberikan contoh soal mantan Presiden Prancis.

“Tradisi pertemuan intelektual dengan kekuasaan sebetulnya di dalam sejarah politik itu biasa sekali,” ujar Rocky Gerung.

Ia lalu mencontohkan bahwa banyak intelektual di Prancis yang diundang untuk membahas isu terkini dengan cara makan bersama.

“Misalnya Presiden Fancois Mitterrand dari Partai Sosialis Prancis setiap dua minggu atau seminggu sekali mengundang intelektual, makan sama-sama, bicara tentang semua isu, sehingga presiden tahu semua isu,” ujarnya.

Mendengar hal itu, Effendi Ghazali lalu mengahut dengan mengatakan bahwa Rocky menyampaikan hal itu karena marah tak pernah diundang ke istana.

“Jangan-jangan ini kemarahan dari orang yang tak pernah diundang ke istana, ini orang ini lagi marah,” sahut Effendi.

Effendi lalu menenangkan Rocky yang dianggapnya marah.

“Tenang saja, Anda enggak perlu marah karena saya juga enggak pernah diundang, tapi tenang saja,” kata Effendi sambil tertawa.

Menjawab hal itu, Rocky mengatakan dirinya sudah berkali-kali diundang ke istana, namun ia tak pernah menghadirinya.

“Saya berkali-kali diundang,” kata Rocky Gerung.

“Enggak mungkin dia lupa nama-nama kita, enggak papa,” kata Effendi.

“Ya di istana saya berkali-kali diundang tapi undangannya enggak perlu saya baca karena enggak ada isinya itu,” jawab Rocky.

Lihat videonya:

Sebelumnya, Rocky Gerung juga mengungkapkan kekagumannya pada era awal Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Hal ini diungkapkan Rocky di awal pertanyaan Iwet Iwel soal aktivis yang masuk ke istana.

“Bang Rocky gimana melihatnya aktivis masuk istana?,” tanya Iwet.

Sementara sebelumnya, Effendy Ghazali mengatakan bahwa aktivis masuk ke istana adalah hal yang biasa.

“Kalau kata Bang Effendy biasa saja katanya,” tambah Iwet.

“Ya dulu memang sangat biasa, bahkan dulu kita dorong,” ujar Rocky.

“Karena pada waktu pemerintahan awal Jokowi kita anggap Jokowi mewakiliki pikiran civil society (masyarakat madani),” tambahnya.

Pada awal pemerintahan Jokowi itu, aktivis bisa masuk ke istana untuk mewakili pikiran masyakat yang menginginkan adanya demokrasi.

“Pikiran masyarakat yang menginginkan adanya demokrasi, hak asasi manusia, maka diam-diam kita dorong aktivis masuk istana,” tambah Rocky Gerung.

Namun, setelah beberapa aktivis masuk ke istana, mereka justru mengabdi pada istana dan tak kembali ke profesinya sebagai aktivis.

Hal itu dianggap Rocky tak sesuai dengan etika aktivis.

“Mereka yang kita dorong ke istana mestinya melapor balik ke kita kan,” kata Rocky Gerung.

“Jadi di dalam itu harus melapor yang diluar, kan itu dalilnya tu, ternyata akhirnya mereka cari suaka di Istana, itu yang menjengkelkan.”

“Padahal dia kita utus di situ untuk menambahkan pikiran pada kekuasaan, karena di awal kita menganggap ada ketidakcukupan pikiran di Istana, maka kita kirim ke situ, sekarang dia ikut ke situ,” tuturnya.

Diketahui, Rocky Gerung lebih sering memberikan kritikan pada Pemerintahan Jokowi.

Seperti diberitakan oleh Tribun JabarRocky Gerung pernah mengungkapkan alasannya sering mengkritik Jokowi.

Hal itu dikatakan Rocky ketika menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club, 4 Desember 2018 lalu.

“Yang saya kritik itu adalah orang yang mengklaim prestasi orang. Tuh, Pak Jokowi banyak klaim prestasi orang makanya saya harus kritik, kan masuk akalnya gitu,” ujar Rocky.

Lalu ia membandingkan dengan dirinya yang tak pernah mengkritik capres Prabowo.

“Saya tidak mengkritik Prabowo, saudara sendiri bilang Prabowo tidak punya prestasi, ngapain saya kritik orang yang tidak punya prestasi, ” tambahnya.

tribunnews.

Comments

comments

Loading...