Diperiksa Soal Ratna Sarumpaet, Amien Rais: Saya Seperti Disambar Halilintar

521

 JAKARTA – Amien Rais akhirnya kelar menjalani pemeriksaan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Rabu (10/10/2018).

Dalam pemeriksaan itu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) itu enam jam berhadapan dengan penyidik.

Sejak siang sampai sore, puluhan pertanyaan dicecarkan penyidik kepada Amien.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah itu tak sendiri. Sederet tokoh pun ikut mendampingingi.

Salah satunya adalah politisi PAN, Eggi Sudjana.

Eggi menuturkan, ada 30 pertanyaan yang dilontarkan penyidik kepada Amien.

Akan tetapi, hanya dua pertanyaan yang dinilainya substansial.

“Yang lain tidak penting, yang penting hanya dua,” beber Eggi, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (10/10).

Adapun dua pertanyaan penting dari penyidik itu, antara lain tentang siapa yang menyuruh adanya konferensi pers di kediaman Prabowo Subianto di Kartanegara.

“Kita semua tahu nggak ada yang nyuruh. Karena di rumah Prabowo wartawan selalu standby. Jadi nggak bisa dikejar lebih jauh,” ujar Eggi.

Kemudian pertanyaan kedua adalah tentang pandangan Amien setelah tahu ternyata Ratna melakukan kebohongan.

“Pak Amien bilang, ‘saya seperti disambar halilintar, saya merasa dibohongi, saya kecewa berat’,” terang Eggi menirukan jawaban Amien kepada penyidik.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta polisi menghentikan pemeriksaan terhadap Amien dalam kasus hoax Ratna Sarumpaet.

Politisi asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menilai kasus tersebut murni permasalahan pribadi ibunda selebritis Atiqah Hasiholan.

“Sudahlah, Polri enough its enough. Stop lah kasus ini. Urusan pribadi Ratna enggak usah dibawa kemana-mana. Tolong lah Polri hentikan ini ya,” kata Fahri di Gedumg DPR RI, Jakarta, Rabu (10/10).

Fahri menyarankan, polisi dan para penegak hukum lainya untuk menjaga sikap untuk menenangkan tensi politik jelang Pilpres dan Pileg 2019.

Jika terus lanjutkan, akan banyak serangan balik yang dilontarkan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Polri.

“Itulah sebabnya muncul serangan kepada pimpinan Polri,” katanya.

Menurut perkiraan Fahri Hamzah, karena Polri telah dianggap menjadi bagian dari pertarungan itu (Pilpres 2019), sehingga muncul serangan kepada pimpinan Polri belakangan ini.

“Nah, ini yang harus dihindari dari awal, sebab itu merugikan dan enggak ada untungnya bagi polisi melayani orang-orang,” pungkasnya.

Di sisi lain, Yusril Ihza Mahendra menyarankan agar Amien tak perlu risau dengan pemeriksaan tersebut.

Menurut pakar hukum tata negara itu, sampai saat ini Amien masih berstatus sebagai saksi.

Untuk menentukan apakah Amien bisa menjadi tersangka atau tidak, hal itu masih harus melawati proses hukum yang cukup pajang.

“Apakah Pak Amien terlibat atau tidak dalam penyebaran kebohongan Ratna, tentu tergantung kepada fakta-fakta hasil pengembangan atas kasus itu,” jelas Yusril.

Sementara, putra Amien Rais, Hanafi Rais, menyebut dari dulu ada upaya pembunuhan karakter terhadap ayahnya.

Kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Rabu (10/10), Hanafi mengatakan, ada sejumlah kejanggalan dalam proses pemanggilan dan pemeriksaan yang disebutnya terlalu dipaksakan itu.

Hal itu mengacu pada waktu pemanggilan yang dinilai janggal yakni sejak 2 Oktober 2018.

Sementara Ratna Sarumpaet baru ditangkap polisi pada 4 Oktober 2018. Ini disebut dramatisasi terkait kasus Ratna Sarumpaet.

“Setelah malam konpres (konferensi pers), tiba-tiba Pak Amien dipanggil sebagai bentuk klarifikasi kasus Ratna Sarumpaet. Padahal Ratna ditangkap 4 Oktober 2018,” katanya.

Menurut anggota DPR RI Fraksi PAN itu, Amien sengaja disasar dan ada desain yang telah disiapkan dalam kasus ini.

Ini terlihat dari pemanggilan yang sangat cepat yaitu tertanggal 2 Oktober, sebelum penyidik Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan terhadap Ratna.

Dia menjelaskan soal masalah administrasi dalam surat panggilan Amien.

Padahal pihaknya bisa saja mengabaikan panggilan Polda Metro Jaya karena dalam surat panggilan nama yang dipanggil tidaklah tepat.

Penyidik Polda Metro Jaya tidak mau mencantumkan nama Muhammad dalam nama lengkap Amien.

“Ada banyak keganjilan. Selalu didramatisasi, ada kepentingan lain, wallahu a’lam,”

“Dengan jiwa besar, Pak Amien datang ke Polda bersikap kooperatif. Ini bukan pertama, dari dulu ada upaya pembunuhan karakter kepada Pak Amien,” ujar Hanafi.

(ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...