Diduga Deretan nama diduga pemasok dana rekening FPI: Cendana, SBY, JK, hingga Gatot

424
Rekening Diblokir, FPI

Pengamat sekaligus dosen Universitas Indonesia, Ade Armando ikut membicarakan terkait sosok yang diduga sebagai pemasok dana sejumlah rekening yang milik Front Pembela Islam (FPI).

Ade mengatakan, pihak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) hingga kini terus berusaha melakukan penyelidikan terkait sosok pemasok dana untuk sejumlah kegiatan yang dilakukan ke rekening ormas FPI.

“Bila ini semua dilacak oleh PPATK, satu per satu, baru nanti kita akan memperoleh gambaran yang sesungguhnya,” kata Ade Armando dalam sebuah video yang diunggah oleh saluran Youtube Cokro TV, dikutip Hops pada, Jumat, 22 Januari 2021.

Butuh dana besar untuk berbagai kegiatan

Kalau dilihat dari kegitan yang dilakukan oleh FPI dan pentolannya Habib Rizieq Shihab, tentu dana yang digelontorkan oleh sosok yang berada di belakangnya sangat besar.

“Yang menjadi pusat perhatian pertama adalah, siapa sih yang selama ini berada di belakang gerakan Rizieq Shihab dan FPI? Keduanya adalah kekuatan raksasa yang tidak mungkin bisa mengoperasikan kerja-kerja politik mereka tanpa dana,” ujar Ade Armando.

Sebagaimana diketahui, Habib Rizieq dan ormasnya sama-sama memiliki kekuatan yang mampu menarik ratusan ribu massa dalam setiap aksinya, sebut saja dalam gerakan 212, 313, hingga 414.

“Rizieq dan FPI adalah motor utama gerakan-gerakan unjuk rasa yang bisa melibatkan ratusan ribu atau bahkan jutaan orang selama berhari-hari, dan terjadi di banyak tempat. Mereka itu semua gerakan 414, 212, 313 dan sebagainya,” tutur Ade.

Berdasarkan analisis Ade Armando, ada kemungkinan upaya dari setiap aksi FPI tersebut diboncengi oleh beberapa kepentingan lain. Paling tidak ada dana yang perlu digunakan untuk menggerakan massa sebanyak itu.

“Menurut saya omong kosong bahwa itu semua melibatkan sekadar kaum muslim yang dengan semangat pengabdian pada Allah terlibat secara suka rela. Walau bukan semua, hampir pasti sebagian dari ratusan ribu orang atau konon jutaan itu dibayar. Atau kalaupun mereka nggak mendapat uang amplop, ya paling nggak ada dana logistik dan konsumsi,” jelasnya.

Selain dilihat dari pergerakan ketika menjalankan aksi, ormas yang kini sudah dilarang oleh pemerintah ini juga memiliki markas dengan fasilitas yang terbilang mewah. Bahkan luas lahan yang digunakan mencapai puluhan hektar.

“FPI itu adalah organisasi besar, dia punya laskar yang terlatih. Bahkan sekarang kita tahu bahwa FPI punya markas sentral kekuatan yang menempati lahan seluas 30 hektar di Megamendung. Di situ ada kompleks tempat tinggal, ada asrama, masjid, pondokan, perkebunan, ruang pertemuan, sarana olahraga,” ungkapnya.

Habib Rizieq Syihab menyapa di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta
Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Foto Front TV via Instagram @habibrizieq_id

Kemudian Ade Armando menyinggung pula keputusan Habib Rizieq bersama keluarganya yang memutuskan untuk hijrah ke Arab Saudi. Selama tiga tahun menetap di negeri orang, tentu membutuhkan biaya yang cukup besar.

Belum lagi ketika jelang kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia, sejumlah baliho alias spanduk dibuat dan dipajang di berbagai daerah.

“Kehidupan Rizieq dan keluarga sendiri itu boros biaya. Begitu juga tiga tahun petualangan Rizieq dan keluarganya di Saudi pasti membutuhkan dana besar,” tuturnya.

“Sementara di Indonesia sendiri, kampanye FPI dan Rizieq sebagaimana diperlihatkan oleh ratusan ribu atau ribuan poster dan spanduk yang tersebar tidak mungkin dibiayai oleh sumbangan anggota atau dari hasil memalak restoran dan tempat hiburan malam,” lanjutnya.

Dari berbagai keperluan itulah, kata Ade Armando, pastinya FPI memerlukan dana yang terbilang cukup besar. Nah yang menjadi pertanyaan, dari mana dana-dana itu berasal.

“Itu semua butuh biaya, dana yang luar biasa besar. Dana raksasa hanya bisa dialirkan dari lumbung-lumbung uang raksasa. Pertanyaannya, siapa lumbung-lumbung itu?,” ujarnya.

Diduga dari sejumlah tokoh di dalam negeri hingga negara asing

Apabila mengacu pada isu yang beredar luas di publik, ada beberapa nama yang diduga terlibat dalam penyokong dana dalam rekening FPI, di antaranya, keluarga Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Gatot Nurmantyo, Tommy Winata, Reza Chalid, hingga sejumlah pihak dari negara asing.

“Selama ini sejumlah nama sudah lazim disebut. Pertama dan ini yang paling sering terdengar, keluarga Soeharto, Cendana. Kedua, keluarga SBY, Cikeas. Ketiga, dinasti JK. Di luar itu orang juga menyebut nama-nama seperti, Gatot Nurmantyo, Tommy Winata, Reza Chalid, atau bahkan kekuatan-kekuatan internasional,” ungkap Ade Armando.

Gatot Nurmantyo, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla. Foto: Antara
Gatot Nurmantyo, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla. Foto: Antara

Meski begitu Ade Armando tidak menjamin kebenaran isu yang beredar tersebut dan mengatakan bahwa nama-nama itu hanya spekulasi. Agar terhindar dari fitnah keji, dia berharap agar PPATK lekas mengusut dan membongkar sejumlah nama yang terlibat dalam pemberi dana dalam rekening FPI.

“Tapi itu semua selama ini hanya bersifat spekulatif, saya misalnya termasuk orang yang tidak percaya bahwa SBY adalah penyandang dana Rizieq, karena memang itu sih bukan gaya politiknya. Nah, dalam konteks menghindari fitnah itulah, penelusuran dana oleh PPATK menjadi penting. Sebetulnya untuk bongkar siapa di belakang gerakan ini semua bisa juga digali dari Rizieq sendiri,” katanya.

“Pembongkaran aliran dana ini bisa membuka mata kita tentang siapa penjahat-penjahat sesungguhnya yang ingin menghancurkan Indonesia,” imbuhnya

Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...