Di mana keberadaan Soeharto ketika peristiwa berdarah G30S?

384

Ketika detik-detik mencekam terbunuhnya sejumlah Dewan Jendral, banyak pihak bertanya-tanya, ‘di mana keberadaan Soeharto ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September (G30S)?’.

Menurut buku berjudul Siti Hartinah Soeharto Ibu Utama Indonesia (1992) karya Abdul Gafar, kala itu, akhir bulan September 1960 suasana politik di tanah air sedang carut-marut.

Tak jarang, suaminya yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) kerap disambangi oleh sejumlah prajurit Kostrad lainnya.

Usut punya usut, ternyata ketika peristiwa yang dikenal sebagai G30S itu terjadi, keberadaan Soeharto bersama keluarganya sedang ada urusan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Lantas, apa yang dilakukan Soeharto di sana? Berikut kronologisnya:

Jelang peristiwa berdarah G30S, wanita yang kerap dipanggil sebagai Tien Soeharto ini sedang mengikuti sebuah acara yang dilaksanakan di kantor Persit (Persatuan Istri Tentara). Dalam perkumpulan itu, dihadiri pula oleh sejumlah pengurus dan pemimpin baik di tingkat Jakarta Raya maupun pusat.

Kebersamaan Soeharto dan Ibu Tien. Foto: Instagram
Kebersamaan Soeharto dan Ibu Tien. Foto: Instagram

Adapun fokus pembicaraan pada pertemuan itu membahas tentang situasi gejolak politik yang ada di Indonesia. Bahkan, materi mengenai dinamika politik ini dibahas langsung oleh Menteri/Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani.

Selama bertahun-tahun menjadi istri prajurit, Ibu Tien mengaku baru saat itu mengikuti acara yang membahas kondisi politik yang semakin gawat, terlebih hal itu berkenaan langsung dengan masa depan bangsa Indonesia.

Padahal sebelumnya, istri prajurit tak akan diberitahui segala hal yang sifatnya rahasia seperti sistem, strategi, hingga gejolak politik yang ada.

Setelah menghadiri acara itu, ia pun bergegas untuk kembali pulang ke rumah. Sebagai sosok ibu, wanita kelahiran Surakarta ini memasakan makanan kesukaan anaknya, yakni sup tulang sapi.

Ketika hendak disajikan kepada anak-anaknya di ruang makan, sup yang masih panas itu tak sengaja tersenggol salah satu putranya yang masih berusia empat tahun, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto).

Akibat dari kejadian itu, kulitnya menjadi melepuh. Tommy pun dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapat perawatan dan penyembuhan lebih lanjut.

Mantan Presiden RI Soeharto. Foto: tututsoeharto.id
Mantan Presiden RI Soeharto. Foto: tututsoeharto.id

Kedua orangtuanya, yakni Soeharto dan Ibu Tien pun menemani Tommy yang harus dirawat di Rumah Sakit.

Namun ketika malam hari tiba, Ibu Tien meminta agar Soeharto pulang ke rumah lantaran putri bungsunya Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek hanya sendirian di rumahnya.

Tak lama kemudian, sejumlah tetangganya memberi kabar kepada Soeharto, mereka mengaku mendengar suara ledakan yang keluar dari moncong tembakan.

Ditengah kebingungan Soeharto, datanglah Broto Kusmardjo, ia mengabari sosok Pangkostrad itu bahwa terjadi sejumlah penculikan Dewan Jendral yang terjadi pada dini hari.

Kabar itu disusul pula pada pukul 06.00 pagi, Letkol Soedjiman yang mengaku diinstruksikan langsung oleh Mayjen Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam V Jaya, menghampiri kediaman Soeharto.

Usai mendapat informasi genting itu, Seoharto langsung bergegas menuju markas Kostrad, Jalan Merdeka Timur.

Tak lama setelah sejumlah peristiwa itu terjadi, Radio Republik Indonesia (RRI) mengabarkan langsung bahwa adanya tragedi berdarah yakni penculikan sejumlah Dewan Jendral.

Sumber Berita / Artikel Asli: Hops

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...