Detik-detik Irma Suryani ‘Paksa’ Budiman Sudjatmiko Gantian Bicara Ladeni Faldo Maldini

7184

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Irma Suryani dan Budiman Sudjatmiko berebut menjawab saat berdiskusi dengan Badan Pemenangan Nasional (BPN).

Hal ini diketahui saat keduanya menjadi narasumber dalam Mata Najwa Trans 7 yang bertajuk ‘Tancap Gas Jelang Pilpres’, Rabu (6/2/2019).

Saat itu pembawa acara Najwa Shihab menanyakan mengenai adanya pernyataan Jokowi mengenai adanya tim suskes yang menggunakan konsultan asing di kontestasi pilpres 2019.

Calon Legislatif (caleg) Partai Amanat Nasional (PAN), Faldo Maldini memberikan persepsinya.

Menurutnya jika memang ada kecurigaan kepada BPN yang memakai konsultan asing, ia menyarankan untuk pemerintah melakukan penyelidikan.

“Jadi kalau menurut saya sih tinggal ditrack kalau memang ada konsultan asing, nanti kan dicek aja visanya kan ada masuk ke data yang dimiliki pemerintah, come on, pemerintah ini jangan sampai kaya orang lemah lah,” ujarnya Faldo.

“Mereka kan punya semua instrumen untuk melakukan pengecekan apapun yang bisa mereka lakukan, tadi ngomong intel dan macem-macem juga, nah jangan sampai juga nanti ketika dibilang konsultan asing, Bang Budiman tadi juga faktanya,” ujar Faldo yang langsung dipotong Budiman.

“Sebentar, ada jumping, ada jumping, ketika saya menyebutkan asing jangan sampai Anda sebutkan konsultasi,” protes Budiman Sudjatmiko.

“Belum, saya belum sampai ke sana, Abang ini terlalu kenceng mikirnya ke saya, santai aja,” jawab Faldo di jawab riuh penonton yang hadir.

Faldo kemudian menyinggung mengenai data survei yang diberikan Budiman yang melansir dari survei Cambridge.

“Bahwa data-data Cambridge, ya tapi kan itu tuduhan yang larinya ke tim sendiri, dan kalau menurut saya sudah lah ya, kita coba petahana, keluarkanlah pesan-pesan kesatuan, pesan yang mengajak bukan politik belah bambu, satu diinjak satu diangkat, capek kita juga kontestasi ini,” ulas Faldo.

Budiman kemudian menjawab namun langsung dipotong oleh Irma Suryani.

“Kami, kami enggak bisa,” belum berlanjut, Budiman disenggol Irma yang meminta gilirannya.

“Bentar, saya mau bicara,” ujar Irma yang membuat Budiman berhenti.

Diminta diam Budiman tertawa sambil mengangguk-angguk.

“Silakan-silakan,” ujar Budiman mempersilakan Irma dengan mengangkat tangannya.

Acara Mata Najwa Rabu (6/2/2019) (akun youtube Najwa Shihab)

Penonton yang melihat hal itupun tertawa dengan tingkah keduanya.

“Saya mau kasih tahu, Faldo ini kelihatannya kalau ngomong halus, tapi sebenarnya hoaksnya banyak ini.

“Salah contohnya begini satu diinjak satu diangkat, sebenarnya itu jahat sekali lho bahasa itu kalau mau tahu.”

“Ini menggiring opini publik. Memperlihatkan seolah-olah pemerintah itu jahat, pemerintah itu seolah-olah itu dan lain sebagainya,” ujar Irma.

Faldo sempat tertawa mendengar dirinya dikritik Irma.

“Ini contoh fakta ini,” ujar Irma.

“Bukannya yang menuduh-nuduh itu Ibu?,” tanya Faldo.

Irma sempat kembali kesal lantaran dirinya disela.

“Sebentar saya belum selesai ngomong, kebiasaan kalian ya (memotong ucapan),” ucap Irma.

“Jadi begini sahabat-sahabatku semua, enggak mungkin juga seseorang tidak mempunyai batas kesabaran,” lanjut Irma.

“Pak Jokowi itu sangat sabar, sangat santun dan tidak pernah bicara keras, tetapi ketika di-bully terus-menerus, difitnah terus-menerus, ketika dikatakan macam-macam, presiden ‘plonga-plongo’ lah, PKI lah, mau tidak harus marah dan mengatakan ‘jangan terus menerus menghina saya’,” sambung Irma.

Jokowi sebut Propaganda Rusia

Dikutip dari Kompas.com, Senin (4/2/2019), saat bertemu sedulur kayu dan mebel di Solo, Jokowi menyebut ada tim sukses yang memakai propaganda Rusia (konsultan asing), Minggu (3/2/2019).

“Yang dipakai konsultan asing. Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, enggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak. Membuat rakyat takut, enggak peduli,” kata Jokowi.

Meski tak menyebut konsultan jenis apa yang digunakan oleh pihak yang disindirnya, Jokowi juga menyinggung mengenai propaganda Rusia.

“Seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia seperti itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoaks sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya seperti itu,” kata Jokowi.

Jokowi pun mencontohkan perihal hoaks yang belakangan ini sempat berkembang di tengah masyarakat.

Yaitu soal tujuh kontainer surat suara tercoblos, hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet, yang saat itu masih bergabung dalam Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Jokowi juga sempat menyinggung soal dirinya yang selama ini disebut sebagai antek asing. Namun, pada kenyataannya, kubu Prabowo-Sandi-lah yang menggunakan konsultan asing dalam menghadapi Pilpres 2019.

“Konsultannya konsultan asing. Terus yang antek asing siapa? Jangan sampai kita disuguhi kebohongan yang terus-menerus. Rakyat kita sudah pintar, baik yang di kota atau di desa,” kata dia.

Jawaban BPN

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar menepis kabar bahwa kubunya memakai politik ala Rusia, dikutip dari talkshow Apa Kabar Indonesia Malam tvOne, Senin (4/2/2019).

“Kami dituduh politiknya ala Rusia, ‘enggak’ kata Pak Prabowo, tapi kita politiknya ala Bojong Koneng (Bogor), Bojong Koneng itu kampungnya Pak Prabowo kita ala-alanya rakyatlah, jadi kita tidak punya konsultan asing seperti yang dituduhkan,” ungkapnya menirukan jawaban Prabowo.

Ia kemudian menilai sebuah pernyataan yang menurutnya fitnah tersebut sangat berbahaya jika diucapkan oleh presiden.

“Nah ini berbahaya memang, kalau ada tuduhan tuduhan seperti itu, apalagi keluar dari seorang presiden. Jadi ini harus hati-hati karena bisa berujung produksi hoaks apalagi menuduh sambil kita pakai konsultan asing dan sebagainya,” ucap Dahnil.

“Model-model kampanye ofensif seperti itu bagi kami tidak masalah, selama itu bagian dari argumentasi dan debat-able di ruang publik. Kami menyambut gembria saja satir-satir yang menunjukkan kualitas demokrasi kita mulai tinggi,” tambah dia.

Menurutnya, Jokowi harus lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan, terlebih ketika membawa-bawa negara lain.

“Harus hati-hati ya apalagi seorang Presiden membawa negara lain, menuduh mereka ikut campur di negara kita, itu berbahaya dan bisa merusak diplomasi ya, kenapa? Karena seorang Presiden harus hati-hati memperhatikan perasaan negara lain apalagi sampai menuduh melakukan intervensi itu bahaya dan mereka bisa keberatan,” ulas Dahnil.

(TribunWow.com/ Roifah Dzatu Azmah)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here