Desakan Jokowi Mundur Terus Menguat, Ruhut Sitompul: Jangan Contoh Provokator yang Kerjanya Nyinyir

454
Ruhut Sitompul

Tak hanya kalangan istana, politisi PDI Perjuangan Ruhut Sitompul ikut-ikutan berang dengan adanya desakan mundur kepada Joko Widodo (Jokowi) dari jabatannya sebagai Presiden karena dinilai lemah dalam penanganan pandemi Covid-19.

“Bapak Joko Widodo Presiden RI sudah dan sedang bekerja untuk Rakyat Indonesia tercinta bersama. Semua jajarannya mengatasi Pandemi COVID-19,” ujar dia dalam akun Twitter-nya, Minggu, 11 Juli 2021.

“Mari kita do’akan dan dukung, jangan dicontoh yang merasa tokoh tapi provokator yang kerjanya hanya nyinyir, ngebacot dan congornya bau,” lanjutnya.

Menurutnya, rakyat Indonesia sudah cerdas dan bisa menilai kinerja baik yang dilakukan Jokowi dan jajarannya.

“Congo*r sampah masih saja terusssssss nyinyir, ngebacot ngerasanin pemerintahan Pak Joko Widodo Presiden RI dan jajarannya yang kerja keras melayani Rakyat Indonesia tercinta yang tertular dampak Pandemi COVID-19. Rakyat sangat cerdas tau Pak JOKOWI seng ada lawan, paten,” imbuhnya.

Desakan mundur kepada Jokowi salah satunya datang dari politisi Partai Gerindra, Fadli Zon. Ia menilai pemerintah harus segera kibarkan bendera putih dan membuka tangan untuk menerima bantuan asing terkait penanganan Covid-19.

Hal itu dipintanya karena melihat sejumlah masalah yang dialami pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

“Kibarkan bendera putih dan buka tangan lebar menerima bantuan dari negara-negara sahabat apalagi yang sudah berhasil mengatasi pandemi,” kata Fadli dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.

Ia menilai Indonesia sangat membutuhkan intervensi global untuk meredam jumlah korban lebih banyak.

Ia mengatakan kalau pemerintah semestinya bisa bersikap realistis dalam menghadapi gelombang baru Covid-19.

Sebab, mulai dari infrastruktur kesehatan, logistik, serta jumlah tenaga kesehatan terbukti sudah berada di ambang batas. Karena itu, Fadli menilai kalau pemerintah tidak bakal sanggup menghadapi situasi yang terus memburuk.

“Suka atau tidak suka, kita harus segera meminta bantuan dunia internasional, terutama negara-negara yang terbukti sudah berhasil mengatasi pandemi,” ujarnya.

Lantas Fadli membeberkan sejumlah alasan kenapa Indonesia membutuhkan langkah yang luar biasa guna mengatasi gelombang baru Covid-19.

Alasan pertama ialah soal tingginya kasus Covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini. Jumlah terakhir sempat memecah rekor yakni hingga 34.379 orang per 7 Juli 2021.

Kemudian alasan kedua ialah soal kebijakan yang diambil pemerintah. Saat ini pemerintah tengah menjalankan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali. Akan tetapi pada praktiknya, kebijakan itu belum bisa membatasi kegiatan masyarakat.

Menurut Fadli, sebagian masyarakat merasa perlu mencari nafkah harian untuk kebutuhan hidup sehati-hari karena pemerintah tidak memberi kompensasi atas pembatasan ini.

Apalagi, di sisi lain, Pemerintah masih saja membuka pintu bandara dan pelabuhan serta TKA asing dari China masih bisa melenggang masuk. Keadaan tersebut dianggap Fadli membuat sebagian masyarakat merasa didiskriminasi.

Lalu soal kemampuan infrastruktur kesehatan Indonesia yang sudah berada di ambang batas.

Menurut data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), saat ini okupansi tempat tidur di berbagai rumah sakit di Jakarta, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah sudah mencapai 100 persen.

PERSI juga menyampaikan bahwa jumlah kasus aktif telah meningkat di 28 provinsi. Disaat yang bersamaan, tabung oksigen dan oksigennya sendiri menjadi langka dan tak memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Galamedia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here