Denny heran ke Anies: Tanah berhektar-hektar masih juga minta sumbangan ke dubes

397
Denny Siregar. Foto: YouTube CokroTV

Apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Anies Baswedan dengan mengirim surat meminta bantuan sumbangan penanganan covid ke dubes-dubes asing di Jakarta dianggap memalukan.

Betapa tidak, nilainya terbilang kecil, jauh dari nilai Formula E yang tidak jadi diselenggarakan dan tak bisa ditagih ke panitia.

Hal itu disampaikan pegiat media sosial Denny Siregar. Katanya, surat minta sumbangan penanganan covid di Jakarta memang benar-benar sangat memalukan. Dan karena nilai yang tak seberapa itu pula seakan Indonesia miskin sekali, sampai harus mengemis-ngemis ke negara lain dalam penanganan covid.

“Padahal kalau untuk sumbangan itu saja enggak usah jauh-jauh deh. Satu pengusaha terkaya di Indonesia saja bisa membayar itu semua. Enggak usah pakai acara minta-minta ke negara lain,” kata Denny Siregar disitat Cokro TV, Selasa 6 Juli 2021.

Dia kemudian menggambarkan, saat ini ada dua orang terkaya RI yang masuk dalam jajaran 100 orang terkaya di dunia. Denny beranggapan, kedua orang itu pasti menganggap kecil untuk urusan bantuan 5.000 tempat tidur, 500 dispenser air, delapan komputer, dan lain-lain.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto Pemprov DKI Jakarta.

Semua tentu tergantung pendekatan pada mereka. “Tetapi ya itu masalahnya pendekatan itu ada hubungannya dengan kepercayaan. Orang-orang terkaya di RI percaya enggak dengan Pemprov DKI? Di sinilah poin pentingnya, bukan orang enggak mau nyumbang, tapi apakah mereka bisa dipercaya?” kata Denny lagi.

“Pasti memang mereka males, karena yang minta sumbangan orang kaya juga,” katanya lagi.

Anies, dubes dan covid

Lebih jauh, Denny Siregar kemudian menjelaskan hubungan antara Anies, Dubes, dan covid, yang belakangan ramai diperbincangkan publik. Menurut dia, agak aneh memang Jakarta sampai meminta bantuan penanganan covid melalui gubernurnya Anies Baswedan ke dubes asing.

Sebab menurut Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta merupakan provinsi terkaya di Indonesia. Seakan wajar karena banyak sekali pusat bisnis RI di sini. Alhasil perputaran uangnya juga sangat besar.

“Banyak orang kaya tinggal di Jakarta, jadi sangat mudah menerima bantuan jika mengalami musibah. Apalagi kalau cuma sekadar tempat tidur, komputer, dispenser, mudah banget, paling total puluhan miliar, kecil lah,” katanya.

Maka itu, dengan segala kemampuan Jakarta, agak mengherankan kalau Anies malah meminta bantuan penanganan covid ke dubes asing. Ibarat tak logisnya, mengapa orang kaya meminta bantuan ke orang kaya lain.

Apalagi yang meminta bantuan dalam hal ini Jakarta, diibaratkan punya rumah megah, tanah berhektar-hektar dengan alasan covid. Sementara anggaran Jakarta sangat besar.

Kedutaan Besar Federal Jerman di Jakarta
Ilustrasi. Kedutaan Besar Federal Jerman di JakartaFoto: @KedutaanJermanJkt

“Jakarta etalase Indonesia, memalukan. Perasaan Jakarta enggak kenapa-kenapa, apa enggak punya uang, atau lebih ekstrem lagi takutnya orang jadi berpikir apa Pemerintah RI sudah enggak punya uang?”

“Untungnya mereka nanya dulu ke Kemenlu. Sehingga Kemenlu lalu sigap menjawab jangan dikasih, biar itu urusan kami,” kata Denny.

Selain memalukan, aksi minta bantuan Anies untuk penanganan covid pada dubes asing juga dinilai berbahaya untuk Indonesia.

Coba bayangkan jika ada wartawan asing iseng menulis Jakarta minta bantuan untuk tangani covid. Pertanyaan yang menyeruak pasti, apa RI sedang bangkrut. Berita itu tentu bisa membuat cemas banyak investor asing, lalu mereka yang khawatir menarik dana ke luar negeri.

Alhasil, rupiah bakal melemah, dan akan terjadi penarikan uang besar-besaran. Dampak sistemik inilah, yang kata Denny, tak pernah ada di kepala Anies Baswedan.

“Bisa hancur kita, ini apa enggak dipikirkan Anies Baswedan?” katanya.

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here