Dari Atas KRI Usman Harun, Jokowi: Saya ke Natuna Pastikan Penegakan Hukum Atas Hak Berdaulat Indonesia

266

 JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti ingin menyampaikan peringatan keras untuk pemerintah komunis China atau Laut Natuna.

Orang nomor satu di Indonesia ini ingin memastikan penegakan hukum hak berdaulat Indonesia atas sumber daya alam di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Demikian disampaikan Presiden usai bertemu ratusan nelayan di di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa, Pelabuhan Perikanan Selat Lampa Natuna, Kabupaten Natuna, Rabu (8/1/2020).

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga meninjau KRI Usman Harun 359 dan KRI Karel Satsuit Tubun di Pangkalan Angkatan Laut Terpadu Selat Lampa.

“Saya ke sini juga ingin memastikan penegakan hukum atas hak berdaulat kita, hak berdaulat negara kita Indonesia atas kekayaan sumber daya alam laut kita,” tegasnya.

Presiden Jokowi di atas KRI Usman Harun 359 yang sandar di Pangkalan Angkatan Laut Terpadu Selat Lampa, Natuna. Foto BPMI Setpres

Presiden Jokowi di atas KRI Usman Harun 359 yang sandar di Pangkalan Angkatan Laut Terpadu Selat Lampa, Natuna. Foto BPMI Setpres

Atas alasan itu pula, ia memastikan TNI AL dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) ada di Natuna.

“Kenapa di sini hadir Bakamla dan Angkatan Laut? Untuk memastikan penegakan hukum yang ada di sini,” sambungnya.

Dikutip Antara, TNI AL sebelumnya telah menempatkan lima kapal perang di Laut Natuna. KRI Usman Harun 359 adalah salah satunya.

Kapal itu sendiri adalah salah satu milik TNI AL yang dilengkapi sistem manajemen tempur modern yang mumpuni di kelasnya.

Kapal perang itu juga dilengkapi sistem penjejak sasaran yang mampu mengarahkan meriam 76 milimeter Oto Melara Super Rapid Gun.

Juga laras senapan mesin kaliber besar jarak pendek 30 milimeter di lambung kiri-kanan kapal perang buatan Damen-BAE Systems, Inggris.

Subsistem yang terakhir ini difungsikan juga sebagai sistem pertahanan pasif kapal dari serangan permukaan dan udara.

Yakni sebagai Close-in Weapon System (CIWS) yang memberi tabir peluru jika serangan itu datang.

Kelengkapan system sensor senjata juga dilengkapi dengan EOTs (Electro Optical Tracker System) untuk pengendalian meriam kapal dan pengamatan secara visual oleh kamera video yang ada.

Kapal jenis frigat ini juga dilengkapi sensor bawah air yang memiliki tingkat akurasi yang baik dalam mendeteksi dan
mengklasifikasi kontak bawah air yaitu sonar.

Yaitu FMS 21/3 Hull Mounted Sonar buatan Thales, Prancis.

(ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...