Dalang Kerusuhan 22 Mei Ternyata Ada 6, dari Purnawirawan sampai Anak Kiai

917

JAKARTA – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menghimbau agar Polri bertindak cepat menangkap hingga memprosesnya secara hukum ke pengadilan otak intelektual kerusuhan aksi 22 Mei.

“Jajaran kepolisian tak perlu takut untuk mengungkap keenam nama dalang kerusuhan tersebut. Rakyat akan mendukung penuh kinerja jajaran kepolisian untuk mengungkap kasus kerusuhan 22 Mei ini,” ungak Neta dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/5/2019).

Dari informasi yang dihimpun IPW, kata Neta, ada enam orang terduga dalang kerusuhan 22 Mei itu.

Yakni terdiri dari dua perwira tinggi purnawirawan, dua perwira menengah purnawirawan, satu tokoh preman, dan satu anak kiyai ternama.

Menurut lembaga yang kerap mengkritisi institusi bayangkara ini keenam aktor intelektual tersebut kerap melancarkan aksinya menggunakan salah satu ormas kepemudaan.

“Mereka inilah yang memprovokasi massa demonstran pendukung capres 02 dari daerah hingga terlibat dalam kerusuhan dan bersikap anarkis terhadap aparat keamanan,” beber Neta.

Kendati sudah mengantongi enam terduga aktor intelektual kerusuhan, akan tetapi neta tak merinci identitas pelaku.

Namun dia mendesak kepolisian agar secepatnya menciduk mereka agar tidak melarikan diri atau berulah kembali membuat kerusuhan baru.

“Polri harus segera menangkap dalang dan penyandang dana kerusuhan itu, apalagi Menko Polhukam Wiranto mengatakan, sudah mengetahui dalang kerusuhan itu,” ungkap Neta.

Untuk diketahui aksi pada 21-22 Mei yang bermula di depan Kantor Bawaslu di Jalan Thmarin itu merembet ke sejumlah lokasi.

Massa yang awalnya menggelar aksi damai, tiba-tiba brutal dan menyerang polisi dengan lemparan batu, petasan dan berbagai benda lainnya.

Tercatat, dalam dua hari itu, polisi menangkap ratusan massa aksi yang diduga sebagai provokator.

Didapati, mereka adalah massa bayaran dengan mendapat upah Rp300 ribu per hari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, korban meninggal akibat kerusuhan Jakarta 21-22 Mei itu berjumlah delapan orang meninggal.

“Yang meninggal jumlahnya ada 8 orang. Kemarin belum disebutkan namanya karena tidak ingin keluarga mendapatkan kabar sebelum diberi tahu secara resmi,”

“Dan ini untuk menangkal kesimpangsiuran berita yang menyebutkan banyak sekali korban meninggal,” kata Anies saat meninjau kawasan Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019).

Sementara, jumlah korban luka disebut mencapai 737 orang yang mendapat perawatan di rumah sakit sekitar lokasi kerusuhan.

“Jenis diagnosis terbanyak yang nontrauma 93, luka berat 79, luka ringan 462. Ada yang belum ada keterangan 96,” kata Anies.

Anies mengatakan jumlah paling banyak warga yang mendapatkan pelayanan kesehatan berusia 20-29 tahun, yakni 294 orang.

Sedangkan usia di bawah 19 tahun sebanyak 170 orang.

“Ini data sampai dengan pukul 11.00,” katanya.

(fir/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...