Dahnil Anzar: Kita Butuh Pak Prabowo seperti Kita Butuh Jenderal Soedirman pada Masa yang Lalu

584

SOLO – Hadir dalam acara Mata Najwa, Koordinator Juru Bicara Koalisi Indonesia Adil Makmur, Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan kelebihan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di depan pemirsa layar kaca Trans 7, Rabu (10/10/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Dahnil mengungkapkan, Prabowo adalah sosok yang tegas dan dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.

“Prabowo Sandi untuk Indonesia adil dan Mamur,” kata Dahnil.

“Pak Prabowo adalah sosok yang berani mengambil keputusan. Indonesia hari ini membutuhkan presiden yang benar-benar memimpin, yang berani mengambil keputusan menurut dia itu benar,” imbuhnya.

Dahnil mencontohkan ketika Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai wakil presiden.

Menurut Dahnil keputusan tersebut adalah bukti bahwa Prabowo tidak bisa diintervensi oleh pihak lain.

“Contoh sederhana ketika Pak Prabowo memustuskan memilih Pak Sandiaga sebagai wakilnya, itu adalah simbol dari ketidakmampuan pihak lain mengontrol Pak Prabowo,” kata Dahnil.

Dahnil juga mengungkapkan, Prabowo memiliki prinsip yang keras dalam hidup namun juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi kepada masyarakat.

Oleh karenanya, sosok Prabowo dianggap sebagai sosok yang dibutuhkan untuk kepemimpinan Indonesia saat ini.

“Pak Prabowo keras dalam prinsip tapi punya solidaritas yang kuat terhadap masyarakat.”

“Hari ini Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak bisa dikontrol oleh siapapun, oleh kekuatan manapun, oleh kekuatan dan sekelompok kepentingan manapun.”

Dahnil mengibaratkan sosok Prabowo sebagaimana Jenderal Soedirman di masa lalu.

Juga Sandiaga Uno yang menurutnya bagaikan sosok Muhammad Hatta yang mendampingi Soekarno sebagai Dwitunggal.

“Hari ini kita butuh Pak Prabowo seperti kita butuh Jenderal Soedirman pada masa yang lalu.”

“Hari ini kita butuh Bung Hatta seperti Indonesia membutuhkan Bung Hatta pada masa lalu, sekarang ada Sandi sebagai simbolisasi Bung Hatta tersebut.”

“Oleh sebab itu Indonesia harus hadir sebagai negara yang adil dan makmur dan mereka ini adalah tokoh yang tepat untuk memimpin Indonesia karena Pak Prabowo memiliki kepemimpinan yang tidak mudah dikontrol oleh siapapun dan beliau akan mengadirkan adil dan makmur untuk seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Dahnil.

Tak hanya Dahnil, dalam kesempatan tersebut, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko juga menyampaikan keunggulan dari pasangan Capres-cawapres yang didukungnya pada Pilpres 2019 nanti, Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amien.

Budiman mengatakan bahwa Jokowi adalah sosok wajah dari tetangga.

Sedangkan Ma’ruf Amin adalah sosok dari kiyai langgar atau musala di desa.

“Jokowi adalah wajah tetangga kita, Kiyai Ma’ruf Amin adalah kiyai di langgar dan musala di dekat rumah kita,” kata Budiman.

Lebih lanjut, sosok Jokowi juga mengingatkan Budiman kepada sosok mantri di puskesmas di kampung halamannya.

Mantri tersebut dipanggilnya, Pak Sulaiman.

Diceritakan oleh Budiman, mantri tersebut berhasil merawat anaknya dengan baik.

Walaupun sang mantri adalah seorang single parent.

“Pak Jokowi mengingatkan saya pada seorang mantri di puskesmas kampung halaman saya di Majenang, Cilacap bernama Pak Sulaiman yang hidup sebagai seorang single parent tapi merawat anaknya dengan baik,” kata Budiman.

Sedangkan Ma’ruf Amien mengingatkan kepada Budiman kepada sosok Kyai Hazbullah yang mengajar ngaji di desanya.

Kata Budiman, sang kyai kerap marah kepadanya ketika ia salah melafalkan Alquran.

“Pak Ma’ruf Amin mengingatkan saya pada seorang kyai pesantren di desa saya, KH Hazbullah yang selalu mengajar mengaji kepada saya.”

“Dan saya ingat betul marahnya dia jika saya salah mengucapkan tajwid,” Budiman mengisahkan.

“Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf Amin adalah wajah tetanggamu, tetangga saya, mbahmu dan kita semua,” ujarnya.

Budiman melanjutkan, dlam catatan sejarah, Jokowi berhasil mendapat mandat dari rakyat untuk menjadi seorang Presiden RI.

Dan mandat tersebut menurut Budiman telah dijalankan dengan baik oleh Jokowi.

Menurut Budiman, Jokowi berhasil mengerjakan hal-hal yang hampir mustahil dilakukan.

“Tapi oleh sejarah, sorang Jokowi dituntun untuk memimpin Indonesia.”

“Dan diminta mengerjakan hal yang hampir mustahil menurut para ahli teori pembangunan dan teori transisi politik,” paparnya.

Hal-hal mustahil tersebut adalah pembangunan infrastruktur.

Budiman mengungkapkan, keberhasilan pembangunan infrastruktur biasanya hanya bisa dirasakan oleh negara yang dipimpin oleh kepala negara yang otoriter.

Bahkan, menurut Budiman, pembangunan infrastruktur sulit dilakukan di negara yang menganut sistem demokrasi, sebagaimana Indonesia.

Namun oleh Budiman, Jokowi dianggap berhasil melakukan pembangunan tersebut.

“Apa yang dikatakan mustahil itu? Pak Jokowi mengerjakan Pekerjaan Rumah yang seharusnya dikerjakan oleh rezim otoriter, yaitu apa, membangun infrastruktur.”

“Jerman dikuasai Hitler membangun jalan tol, Korea Selatan dikuasai Park Chung Hee membangun jalan tol.”

“Cina tentu saja masih otoriter, membangun jalan tol ribuan kilometer mudah saja bagi mereka.”

“Tapi dalam alam demokrasi itu agak susah, tapi Pak Jokowi sanggup melakukannya,” pungkas Budiman.

Simak video lengkapnya di bawah ini.

(*)

.tribunnews

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...