China Punya Banyak Kartu Truf, AS Masih Mau Ajak Ribut Lagi?

347

Jakarta – Dulimbai Gurun, Jungguk, Chūka, Zhongguo, Middle Kingdom, Cathay, Tiongkok, Tionghoa, dan puluhan nama lain merupakan sebutan yang sama untuk daerah yang sekarang bernama resmi Republik Rakyat China.

Beragam julukan tersebut menunjukkan bahwa berhadapan dengan AS dalam perang dagang yang masih menyisakan bara, China seakan tidak takut meskipun saat ini status mereka masih berada di level negara berkembang, belum masuk jajaran negara maju meskipun sudah menjadi salah satu negara anggota G20.

Meskipun belum masuk daftar negara maju, daftar kedigdayaan China dibanding negara lain bisa dibilang sangat beragam. 

Teknologi dan Telekomunikasi

Dari sisi teknologi, hampir tidak ada negara yang lepas dari penetrasi jaringan, perangkat lunak dan keras, serta ponsel dari China. Simak saja merek dagang yang sudah mendunia seperti Tencent, Huawei, ZTE, dan Xiaomi, yang seakan tak lepas dari keseharian.

Keunggulan China di sektor tersebut juga terlihat dari tingginya angka dari penetrasi internet dan penggunaan ponsel. Pada 2017 saja, Wikipedia dan International Telecommunication Union mencatat jumlah pengguna internet dan ponsel di China berada di posisi teratas, yang tentunya didukung jumlah penduduknya yang angkanya juga jumbo dan nomor satu di dunia. Saat ini, penduduk China mencapai 1,4 juta jiwa, di atas India 1,35 miliar jiwa, AS 330 juta jiwa, dan Indonesia 270 juta.

Jumlah pengguna ponsel China mencapai 1,32 miliar jiwa, atau 17,15% dari total penduduk dunia 7,7 miliar, di atas India, AS, Brasil, dan Rusia. Lalu jumlah pengguna internet di China 765,36 juta jiwa, di atas India, AS, Brasil, dan Jepang.

Komoditas

Saat ini, China dikenal sebagai negara produsen sekaligus konsumen terbesar di dunia berbagai macam komoditas seperti minyak, baja, tembaga, jagung, gandum, kedelai, dan batu bara.

Untuk batu bara, per 2013, WorldAtlas mencatat nilai produksi China 3,7 miliar ton per tahun dan pada 2017 diprediksi angkanya justru turun menjadi 3,45 miliar ton per tahun.

Posisi China diikuti oleh AS 922 juta ton per tahun, India 605 juta ton per tahun, Australia 413 juta ton per tahun, dan Indonesia 386 juta ton per tahun.

Batu bara menjadi penting karena merupakan komoditas tradisional dan bahan dasar untuk memproduksi energi listrik untuk menyalakan pembangkit listrik tenaga uap.

Si batu hitam penting karena dengan produksi China sudah dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya, terutama untuk energi. Sehingga, dapat dikatakan Negeri Tirai Bambu sengaja mengimpor batu bara demi menjaga cadangan komoditas tersebut di dalam negeri atau untuk menjaga hubungan dagang dengan negara lain.

Saat ini, komoditas batu bara menjadi salah satu produk perdagangan antar-negara tradisional yang masih menjadi keunggulan China.

Perdagangan

Untuk perdagangan, China juga menjadi dominan dunia. Data transaksi ekspor, berdasarkan data PBB, China memiliki nilai ekspor US$ 2,26 triliun pada 2017, di atas nilai ekspor AS, Jerman, Jepang, dan Korsel.

Dari sisi impor, nilai perdagangan China pada periode yang sama mencapai US$ 1,84 triliun, hanya kalah dari AS yang memiliki nilai impor US$ 2,4 triliun. Berada di bawah China ada Jerman, Jepang, dan Inggris Raya.

Meskipun di bawah AS, nilai impor China justru menunjukkan bahwa ada surplus ekspor US$ 420 miliar yang pasti menguntungkan bagi negara yang dipimpin Xi Jinping tersebut.

Apalagi, saat ini China memiliki surplus perdagangan dengan AS yang menunjukkan bahwa AS ‘kalah’ karena menyerap lebih banyak barang China dibanding China menyerap barang produksi AS yang angkanya mencapai US$ 500 miliar pada 2018, menurut Presiden AS Donald Trump.

Keunggulan tersebut juga diperkuat oleh kontrol pemerintahan China terhadap mata uang yuan mereka, karena Negeri Panda adalah satu dari 31 negara yang memiliki supremasi mata uang karena memiliki kontrol terhadap alat pembayaran tersebut.

Selain China, beberapa negara besar lain yang masih melakukan kontrol mata uang adalah Afrika Selatan, Rusia, India, dan Iran. Kontrol tersebut minimal dapat dilakukan dengan menetapkan nilai mata uangnya dan pelarangan mentranksasikan mata uangnya terhadap mata uang lain di dalam negeri.

Beberapa cara lain adalah melarang penduduknya memiliki valuta asing (valas), membatasi jumlah pedagang valas, dan pembatasan jumlah mata uang yang diimpor dan diekspor.

China juga dianggap sebagai satu dari beberapa negara yang pemerintahannya sukses memonopoli konversi mata uangnya, terutama terhadap dolar AS. Secara rata-rata, China membeli sekitar US$ 1 miliar per hari untuk mengatur nilai mata uangnya.

Sepanjang 1990-an, pemerintah China juga dianggap sukses menjaga nilai mata uangnya dengan cara memonopoli yuan di hadapan seluruh mata uang lain.
Mata uang juga menjadi pendukung utama dari praktik dumping, yaitu melemahkan harga jual suatu barang ke negara lain (ekspor) daripada harga normal atau harga jual di negeri sendiri.

Dengan cara itu, dapat tercipta penguasaan pangsa pasar dan tingkat keberhasilannya adalah ketika memonopoli peredaran barang dan mampu mendikte harga serta kualitas di pasaran.

Karena itulah, dengan kemampuan mengontrol mata uangnya, pelemahan mata uang China dapat berdampak pada banyaknya barang yang dapat diekspor negara tersebut terhadap negara lain.

Dalam hal inilah Trump sempat ‘berteriak’ ketika pelemahan nilai mata uang yuan sudah terlalu dalam dan berfungsi sebagai aksi balasan terhadap ancaman kenaikan tarif impor 10% terhadap barang ekspor China ke AS senilai US$ 300 miliar.

Kepemilikan US Treasury

Obligasi AS, yang biasa disebut US Treasury, berfungsi sebagai mata uang lain dunia di luar dolar AS selain dari guna awalnya sebagai pembiayaan pemerintah Negeri Paman Sam. Nah, dari seluruh negara asing yang memiliki US Treasury, China memiliki porsi terbesar di antara negara lain.

Per Mei tahun ini, China masih menggenggam US$ 1,11 triliun atau 16,98% dari total US Treasury beredar, baik oleh swasta maupun pemerintahannya. Nilainya tertinggi dibanding negara lain seperti Jepang, Inggris Raya, dan Brasil.

Senjata ampuh inilah yang masih membuat China masih memegang kartu truf, atau kartu jagoan, terhadap sepak terjang AS. Meskipun demikian, porsi kepemilikan dan nilai kepemilkan China terhadap obligasi berdenominasi dolar AS tersebut semakin turun seiring dengan semakin memanasnya tensi perang dagang China-AS.

Melihat hampir seluruh sektor yang dikuasai China tersebut, tidak salah kan jika Nabi Muhammad sampai bersabda kepada umat Islam agar mencari ilmu sampai negeri China?   , CNBC Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...