Buzzer Pro Jokowi Lebih Tertarik soal Khalifah Ketimbang Tragedi Wamena?

558

Tulisan  ABC  Indonesia yang mengutip  hasil  analisa media sosial  cukup menarik.  Artikel ini  menggambarkan para buzzer atau influencer pro-pemerintah tak banyak terlibat dalam percakapan medsos tentang pembantaian di Wamena, Papua. Mereka lebih tertarik pada isu khilafah.

Analisa itu menarik. Sejauh ini  Presiden Jokowi  juga  relatif jarang  mengeluarkan pernyataan mengenai tragedi Wamena, Papua yang menewaskan banyak pendatang. Selain itu isu mengenai revisi UU KPK dan demo mahasiswa dalam beberapa hari terakhir lebih mewarnai pemberitaan media.

Artikel  ABC Indonesia   tersebut mengutip hasil pengamatan Drone Emprit, sistem yang memonitor dan menganalisa media sosial serta platform online berbasis teknologi big data, menyebut percakapan tentang Papua di media sosial Twitter mengarah ke tiga topik, yakni Wamena, IDIBerduka, dan West Papua.

Dari ketiga topik itu, kata Ismail Fahmi -pendiri Drone Emprit, ada tiga cluster atau kelompok besar yang muncul ketika diidentifikasi dalam sebuah peta Analisa Jaringan Sosial (SNA). Mereka adalah cluster publik, oposisi dan pro West Papua (Papua Barat).

Kelompok oposisi adalah mereka yang banyak mengkritisi kebijakan Presiden Jokowi atau Pemerintah Indonesia dalam setiap postingan Twitter-nya. Kelompok pro West Papua adalah mereka yang menyoroti pelanggaran hak asasi manusia di Papua dan mendukung referendum. Sementara cluster publik muncul karena mereka tidak tergolong oposisi, dan menurut Ismail, tak tampak akun top buzzer pro Pemerintah Indonesia di kelompok itu.

Sikap Jokowi
Salah satu pemberitaan Jokowi mengenai Papua muncul pada 30 September 2019. Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyatakan siap bertemu dengan tokoh-tokoh separatis Papua. “Ya tidak ada masalah. Bertemu saja. Dengan siapapun akan saya temui kalau memang ingin bertemu,” kata Jokowi  di Istana Kepresidenan Bogor.

Sebelumnya puluhan anggota DPRD Kabupaten/Kota se-Papua dan Papua Barat mengusulkan agar pemerintah bertemu dan berdialog dengan tokoh-tokoh Papua yang memiliki ideologi berseberangan. ***   Safira Suryawati – Penulis Indonesiana / teras

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...