Bunga Utang Indonesia Diprediksi Jadi Rp 275 Triliun

410

JAKARTA – Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyebutkan, tahun ini bunga utang Indonesia diperkirakan membengkak hingga Rp 267 triliun–Rp 275 triliun.

’’Pembengkakan disebabkan naiknya Fed rate dua kali di 2019 serta risiko global dan domestik jelang tahun politik,’’ kata Bhima, Kamis (4/1).

Menurut dia, pemerintah perlu berfokus mengurangi belanja yang konsumtif seperti belanja barang dan belanja pegawai.

Belanja infrastruktur perlu dievaluasi karena nilainya lebih dari Rp 400 triliun di APBN 2019.

Proyek yang tidak prioritas dan berbahan baku dominan impor juga bisa ditunda dulu.

Dari sisi penerimaan pajak, kuncinya terletak pada tax ratio yang harus digenjot ke angka 12 persen dari posisi saat ini di level 11,5 persen.

’’Basis pajak perlu diperluas karena 2019 tidak bisa lagi andalkan penerimaan dari migas dan pertambangan seiring dengan rendahnya harga komoditas,’’ ujar Bhima.

Pada 2019, pemerintah memiliki kewajiban pembayaran utang jatuh tempo Rp 354 triliun yang terdiri atas surat utang dan pinjaman bilateral maupun multilateral.

Tantangannya ialah masih ada risiko pelemahan kurs rupiah tahun ini.

’’Pemerintah disarankan mengurangi penerbitan utang dalam bentuk valas,’’ tutur Bhima.

Ekonom Asia Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi menerangkan, suku bunga utang secara nominal diperkirakan terus naik.

Karena itu, pemerintah disarankan memperlambat penambahan utang baru. Pemerintah berutang untuk membiayai defisit APBN.

’’Idealnya, defisit APBN bisa dikurangi,’’ ujar Eric.

Hal yang bisa dilakukan adalah mengatur sisi belanja daripada sisi penerimaan.

Sebab, sisi penerimaan banyak dipengaruhi faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah. Misalnya, harga minyak dan nilai tukar. (nis/rin/c14/fal) JPNN

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...