Bukan Cuma Pupuk, Kadin Juga Teriak Soal Harga Gas

298
Jakarta – Kalangan pengusaha berharap ada solusi dari masalah ketersediaan dan harga gas industri. Selama ini, industri mengalami kendala penyaluran gas industri.

Wakil Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Perindustrian Johnny Darmawan mengatakan gas merupakan kebutuhan vital bagi Industri. Karena itu, kebijakan mengenai gas harus memperhatikan porsi kepada industri.

Kendala penyaluran gas terjadi karena lokasi industri jauh dari sumber-sumber gas. “Tapi menurut saya sebagai Kadin, jauh ngga jauh, harus dipertimbagkan awalnya saat dibikin,” kata Johnny, Jumat (6/12/2019).

Persoalan gas industri juga diungkapkan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Holding Company Aas Asikin Idat saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (5/12/2019).

Asikin mengatakan harga gas menempati 70% biaya produksi pupuk. Namun harga rata-rata gas industri pupuk dalam negeri berada di kisaran US$ 5,8/MMBTU, sementara, harga pesaing bisa di rata-rata US$ 3,95 per MMBTU.

Sementara pada 2024 nanti, ada kemungkinan pasokan gas belum terjamin atau diprediksi berkurang. Menurutnya kondisi itu bisa menyebabkan Pusri Palembang terancam berhenti berproduksi. Johnny berharap dengan pengakuan industri pupuk ini, persoalan pasokan dan harga gas bisa terurai.

“Ingat ngga, Jokowi pernah mengatakan harga gas industri ngga boleh naik. Dan ke depan hulurisasi,” kata Johnny.

Presiden Jokowi sebelumnya pernah meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif untuk menghitung kembali komponen harga gas bagi kebutuhan industri. Ia saat itu menyampaikan bahwa harga gas industri tidak naik.

Menurutnya efisiensi harga minyak maupun gas sangat penting karena menyangkut produk-produk yang dihasilkan industri Indonesia.

“Peluang itu saya tangkap. Untuk industri-industri tertentu, harga gas sangat menentukan sekali,” kata Jokowi, Jumat (1/11/2019).

Ia menyoroti harga sewa pipa misalnya dari Dumai menuju Jawa, apakah harga sewa sambungan pipa terlalu mahal, bisa saja dari situ. Dari data yang dimilikinya, harga gas di ‘onshore’ masih berada di posisi normal. Namun ketika ditarik di ditarik ke sebuah area-area ekonomi jadi mahal.

“Ke depan kita melihat banyak sekali, nanti misalnya ladang gas di Dumai tahun 2023 akan habis. Ini juga bisa mensuplai gede sekali kalau ditarik ke domestik. Sementara ini, dia masuk ke Singapura, kemudian di Sumatera Selatan juga ada Sakakemang nanti juga bisa mensuplai, kita juga punya yang namanya Bojonegoro, bisa memproduksi 190 mms nanti juga bisa digunakan dalam negeri,” ujar Jokowi. (gus/gus)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...