Bos Blackgold Tulis Nama JK dan SN Terkait Fee Proyek PLTU Riau-1

759
Setya Novanto

Pemegang saham Blackgold Natural Resource (BNR) Johannes Budisutrisno Kotjo membenarkan bahwa pihaknya akan memberi fee senilai 24 persen dari hasil proyek pembangunan PLTU Riau-1.

Hal ini berdasarkan catatan yang dibuat Kotjo, dimana dirinya menyembunyikan nama penerima fee menggunakan kode JK dan SN, yang kemudian dipertanyakan oleh tim jaksa KPK di Persidangan.

“Ini ada catatan tulis tangan soal pembagian fee dari proyek total 900 juta dollar AS. Ada nama JK, ada SN. Ini benar?” tanya jaksa KPK sambil menampilkan bukti catatan tersebut.

“Iya catatan itu saya yang buat. Itu JK bukan Jusuf Kalla tapi nama saya Johannes Kotjo. Ada SN itu Setya Novanto akan terima 24 persen atau 6 juta dollar AS,” jawab Kotjo.

Adapun kisaran 24 persen yang dimaksud, setara dengan 6 juta dollar yang rencananya akan dibagi, jika proyek berjalan sudah nantinya.

Fee tersebut merupakan bagian 2,5 persen atau sekitar 25 juta dollar AS dari perkiraan nilai proyek 900 juta dollar AS yang bakal diterima oleh Kotjo jika proyek PLTU Riau-1 berjalan lancar.

Sebagaimana tertulis dalam surat dakwaan milik Kotjo, disebutkan bahwa dirinya juga mendapat bagian fee yang sama seperti Setya Novanto (Setnov) yakni 24 persen atau‎ sekitar 6 juta dollar AS dari fee 2,5 persen. Sehingga, Jaksa pun mencecar apa hubungan Setnov dengan proyek PLTU Riau-1.

“Saya sama beliau (Setya Novanto) berkawan lama. Mungkin sudah 30 tahun sejak tahun 80an. Itu saya terima kasih sama dia karena beliau yang hubungkan saya dengan Sofyan Basir sebelum Bu Eni. Ya saya kasih beliau,” ujar Kotjo.

“Besar sekali pak? ,” timpal Jaksa.

“Ya itulah bodohnya saya, tapi itulah pak,” jawab Kotjo singkat.

Kotjo sendiri didakwa telah memberikan uang Rp 4,7 miliar ke mantan Wakil Ketua DPR RI Eni Maulani Saragih dan Mantan Mensos RI Idrus Marham, demi meloloskan proyek PLTU Riau-1 dengan nilai proyek 900 juta dollar AS.

Kotjo juga disebut dalam dakwaannya meminta bantuan Setnov, karena permohonan Independen Power Producer (IPP) ke PT PLN (persero) terkait rencana pembangunan PLTU Riau-1 tidak direspon oleh PLN.

Namun, karena tidak ada kelanjutan dari PLN, Kotjo pun menemui Setnov agar dapat dipertemukan dengan pihak PLN. Sehingga kemudian, Kotjo akhirnya dikenalkan mantan Ketua DPR RI tersebutkapda Eni Maulani Saragih yang duduk di Komisi VII membidangi energi yang juga bermitra dengan PLN.

Dari Eni, Kotjo pun dipertemukan dengan Dirut PLN Sofyan Basir, dan pertemuan merrka terjadi beberapa kali baik di rumah Setya Novanto, restoran hingga rumah Sofyan Basir.

Atas perbuatannya, Kotjo didakwa telah melakukan pemberian suap kepada sejumlah pihak, dan dikenakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.[] AKURAT

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here