Bertemu di Yogya, Ma’ruf-Cak Nun Bicara Pluralisme

192
Ma'ruf Amin saat mengunjungi Emha Ainun Nadjib (Foto: Usman Hadi/detikcom)

JAKARTA–Cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin menyempatkan diri menemui budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun di sela kunjungannya ke Yogyakarta, Minggu (14/10/2018) petang.

Pertemuan dalam suasana kekeluargaan di sebuah tempat bernama Rumah Maiyah.

“Saya bersyukur bisa diterima oleh Cak Nun seorang tokoh, budayawan yang sangat terkenal,” kata Ma’ruf saat bertemu Cak Nun di Rumah Maiyah, Yogyakarta.

Ma’ruf mengatakan bertemu Cak Nun pertama kali saat Presiden Soeharto menanggalkan kekuasaannya.

Setelah itu keduanya bertemu sekali lagi di Mekah, sebelum keduanya masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Dalam pertemuan itu, Ma’ruf memohon doa restu karena dirinya diajak Presiden Jokowi maju sebagai cawapres dalam Pilpres 2019.

Dia menjelaskan bahwa dirinya akan membantu Presiden Jokowi menyiapkan landasan pembangunan bangsa serta mengawal agar tidak terjadi lagi konflik ideologi ke depan.

Secara khusus, Ma’ruf Amin meminta Cak Nun memberikan masukan serta saran mengenai pluralisme.

“Cak Nun sebagai orang kebudayaan, saya ingin memperoleh masukan, saran, bagaimana kita membangun negara supaya lebih baik, lebih rukun, lebih sejahtera dan lebih maju di depan,” kata Ma’ruf.

Dalam pertemuan itu, Cak Nun mengatakan bahwa sejatinya ia yang merasa bersyukur kepada Allah karena bisa kedatangan Ma’ruf Amin.

Cak Nun tidak merasa pada tingkatannya hingga bisa disebut membuat Ma’ruf hadir ke tempatnya. Ia juga merasa tak pantas didatangi Ma’ruf.

“Saya tidak merasa pada levelnya untuk (bisa dikatakan) ‘panjenengan rawuh’ ke sini karena saya. Ibarat sepak bola, saya tidak di kesebelasan, wasit bukan, hakim garis juga bukan, official PSSI ya ndak, saya paling boneknya penonton,” kata Cak Nun.

Meskipun demikian, kata Cak Nun, Allah sudah mengizinkan pertemuan itu. Dia pun memohon izin merespons soal keretakan dalam pluralisme.

Cak Nun mengatakan saat ini gempa yang terjadi lebih banyak berasal dari manusia, bukan dari alam. Salah satunya gempa pluralisme, terjadinya keretakan-keretakan di mana-mana.

Menurut Cak Nun, masalah pluralisme tidak terjadi di kelas menengah ke bawah. Masalah pluralisme justru terjadi di tingkat atas dan elite saja dan digulirkan untuk kepentingan kekuasaan.

“Saya lakukan detoksifikasi di desa. Yang penting di desa rukun. Pak Kiai ini bukan hanya cawapres, tapi juga ulama, sangat penting supaya ilmu-ilmu beliau bermanfaat dalam posisi apapun,” kata Cak Nun.

Ia pun mendoakan agar Allah memberikan jalan terbaik bagi Ma’ruf. Ia menyatakan mendukung semua pihak. (plt/ant) (TEROPONGSENAYAN)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here