Bendera Tauhid DIbakar, PBNU: Polisi Lalai Banyak Bendera HTI Tak Ditertibkan

567
PBNU gelar konpres terkait pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat

JAKARTA – Peristiwa pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat, masih terus menimbulkan pro-kontra di sejumlah kalangan.

Tak sedikit pula, pihak yang kemudian mengecam dan menganggap bahwa hal itu adalah bentuk penodaan agama.

Namun, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan pembelaannya kepada Gerakan Pemuda (GP) Ansor atas insiden tersebut.

Menurut PBNU, bendera yang dibakar itu adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Demikian disampaikan Ketua PBNU Said Aqil Siradj dalam jumpa pers di Gedung PBNU Kramat Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Said Aqil menyebut, peristiwa tersebut terjadi lantaran polisi kecolongan dan tidak melakukan penertiban.

Mereka mengklaim ada satu truk lebih bendera HTI yang siap dikibarkan di beberapa daerah di Jawa Barat. Bahkan sebagiannya telah berkibar.

Hal itu, jelas Aqil, ditemukan berdasarkan laporan Tim Pencari Fakta yang dibentuk PBNU.

Ia mengklaim, di sejumlah tempat, bendera HTI berhasil ditertibkan dan diserahkan kepada aparat keamanan sesuai SOP.

Namun di Garut, Aqil menganggap polisi telah kecolongan. Menurutnya, insiden itu terjadi lantaran polisi tidak melakukan penertiban.

“Kami menyayangkan aparat keamanan yang kecolongan dengan tidak melakukan tindakan terhadap pengibaran bendara organisasi terlarang HTI,” lanjut Aqil Siradj.

Menurut PBNU, anggota Banser yang melakukan pembakaran adalah korban dari upaya provokasi dan infiltrasi secara sistematis terhadap peringatan Hari Santri Nasional 2018.

“Pengibaran dan pemasangan bendera HTI di tempat Apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di hampir seluruh Wilayah Jawa Barat, seperti Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung, Tasikmalaya,” kata Aqil.

Di tempat yang sama, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan harusnya polisi melakukan tugasnya untuk mensterilkan lokasi apel hari santri.

Terlebih dari bendera organisasi terlarang seperti HTI yang memang sudah diputusakan sebagai ormas yang bertentangan dengan Pancasila.

“Harusnya itu (bendera) nggak sempat masuk ke arena hari santri,” tegasnya.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Setyo Wasisto membeberkan hasil penyelidikan dari tiga orang yang diamankan terkait insiden tesebut.

Ternyata, alasan pembakaran bendera tauhid itu lantaran agar massa tidak menginjak-injak bendera yang diklaim simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pasalnya, dalam acara tersebut panitia tidak memperkenankan membawa bendera selain bendera Merah Putih.

“Dibakar, artinya mengamankan jangan sampai nanti diamankan jangan sampai diinjak-injak,” kata Setyo di Jakarta, Senin (24/10).

Setyo pun masih tak percaya kalau pembakaran bendera itu sebagai bentuk penista terhadap kalimat tauhid.

Sebab, Banser adalah merupakan ormas Islam yang pastinya menjungjung tinggi nilai-nilai Islam.

“Kalau tauhid pun, mereka kan umat Islam juga. Masa mereka mau mencederai diri sendiri sih,”

“Kan tidak mungkin. Tidak mungkin lah ini banser juga ormas Islam yang gede,” tandasnya.

(ruh/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here