Baru Menjabat Langsung Diminta Mundur, Nasib Kapolda Riau Di Tangan Kapolri

2320
Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo

Polda Riau baru saja berganti komando. Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo resmi menjabat Kapolda Riau menggantikan Irjen Pol Nandang pada Senin (24/8/2018).

Sehari setelah resmi menjabat Kapolda Riau, Brigjen Widodo Eko langsung membuat pernyataan menohok. Ia menegaskan akan membubarkan acara deklarasi #2019GantiPresiden yang dilaksanakan pada Minggu (26/8) di Pekanbaru.

“Kita antisipasi. Saya tegaskan di sini batalkan itu. Gak ada manfaatnya, mudharatnya banyak,” tegas mantan Wakapolda Jawa Timur, usai Serah Terima Jabatan di Mako Brimobda Polda Riau, pada Jumat (24/8) lalu.

“Kita akan lakukan pertimbangan kembali dengan strategi lainnya. Mungkin tidak saya sampaikan di sini,” kata dia.

Pernyataan keras Widodo membuat sejumlah kalangan emosi, terutama dari kubu pendukung pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Mereka mendesak agar Kapolri segera mencopot Widodo dari jabatan Kapolda Riau.

Desakan agar Kapolda Riau dicopot semakin kencang setelah disuarakan pasca
dihadangnya penggagas gerakan #2019GantiPresiden, Neno Warisman di Pekanbaru, Riau.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai Kapolda Riau Brigjen Widodo Eko Prihastopo tidak becus menjalankan tugas sebagai aparat keamanan.

Fadli Zon menuding Brigjen Widodo telah membiarkan persekusi dan penghadangan oleh massa terhadap Neno Warisman di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

“Sebaiknya Kapolda Riau dicopot, tdk becus mengurus keamanan bandara n keamanan warga negara (Mb Neno dkk). Membiarkan persekusi,” cuit Fadli Zon di akun Twitternya, @FadliZon, Sabtu malam (25/8).

Menanggapi itu, Kepala Bidang Humas Polda Riau, Kombes Sunarto, malah mempertanyakan keterangan Fadli Zon tersebut.

“Mundur gimana? Kalau kita jalan, maju. Ya itu, kita di sini bekerja. Urusan pergantian, mutasi dan lain sebagainya itu, urusan pimpinan. Kita di sini bekerja,” kata Narto kepada wartawan pada Minggu (26/8).

Pada Sabtu kemarin (25/8), ada 748 personel gabungan yang dikerahkan saat kedatangan Neno. Itu terdiri Polri, TNI AU dan TNI AD. Diakui Sunarto, ratusan personel itu ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

“Pro kontra kalau mengganggu Kamtibmas tentu kita harus ambil langkah. Supaya tidak timbul masalah yang lebih besar, lebih melebar. Jadi sebelum terjadi kita cegah,” kata dia.

Neno Warisman mendadak tiba di Pekanbaru pada Sabtu sore (25/8) untuk menghadiri acara deklarasi #2019GantiPresiden.

Semula acara itu akan dilangsungkan pada hari ini, Minggu (26/8). Namun pada Jumat (24/8) lalu, panitia menunda acaranya pada 2 September.

Dengan kedatangan Neno yang mendadak itu, puluhan massa langsung memblokir gerbang keluar bandara SSK II Pekanbaru, Sabtu (25/8). Neno tertahan dari pukul 15.30 WIB hingga sekitar pukul 22.30 WIB.

Mobil sedan putih yang ditumpangi Neno tak dapat bergerak saat itu. Bahkan massa yang emosi sempat melempari mobilnya dengan botol air mineral. Mereka juga melakukan aksi bakar ban. Massa yang kontra ini, akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB.

Setelah massa kontra membubarkan diri, massa yang pro Neno berdatangan. Tujuan mereka untuk menjemput Neno yang belum diizinkan aparat untuk keluar dari bandara.

Massa yang mengatasnamakan diri mereka dari tokoh pemuda masyarakat Riau, ini sempat dibubarkan paksa oleh polisi sekitar pukul 18.30 WIB. Namun mereka kembali lagi ke bandara dengan jumlah yang lebih banyak sekitar pukul 22.00 WIB.

Akan tetapi, kedatangan mereka kesana tidak ada hasilnya. Suara mereka tak dapat membuat Neno diizinkan keluar dari Bandara. Neno akhirnya dipulangkan paksa oleh aparat ke Jakarta pada penerbangan terakhir sekitar pukul 22.30 WIB. [psid]

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.