Banjir Mulai Menggenangi Kota Ngawi

488

Ngawi  Dampak bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Ngawi makin meluas. Bahkan, banjir mulai merendam Kota Ngawi. Apalagi, kawasan kota berada di sekitar aliran Sungai Bengawan Madiun.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi menginformasikan Kecamatan Ngawi dan Geneng sudah tergebang banjir. Dengan demikian, ada enam kecamatan yang terkena luapan air. Mulai dari Kecamatan Geneng, Kwadungan, Pangkur, Padas, Ngawi, dan Karangjati.

Dari enam kecamatan tersebut, Kecamatan Karangjati sudah mengalami penyusutan air. Sebaliknya, luapan air terjadi di Kecamatan Ngawi, Geneng dan Kwadungan.

“Wilayah Kota Ngawi merupakan titik temu dua aliran sungai besar, yaitu Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Otomatis penggelembungan terjadi dan masuk ke anak-anak sungai sekitar Kota Ngawi. Lalu merambah ke Geneng,” jelas Kepala BPBD Kabupaten Ngawi Eko Heru Tjahjono, Jumat (8/3).

Ketiga kecamatan tersebut merupakan kantung penggelembungan luapan banjir dari arah Bengawan Madiun maupun Bengawan Solo. Meskipun debit air Bengawan Madiun mengalami penurunan hampir 1 meter, namun dari arah hulu Bengawan Solo mengalami peningkatan arus banjir terhitung pukul 24.00 WIB, Kamis (7/3).

Sedangkan akibat dari bencana banjir ini terdapat 3.825 rumah, 25 desa, dan 6 kecamatan yang terendam banjir. Untuk korban jiwa memang tidak ada.

“Alhamdulillah, korban jiwa nihil. Sedangkan untuk material kita masih kesulitan karena masih banyak daerah yang terendam dan sulit dijangkau,” tukas Heru.

Sementara, banjir yang terjadi di Madiun merendam sekitar 497 hektare lahan pertanian. Sawah yang terendam mayoritas ditanami padi yang baru berusia 70 hari dan sekitar dua hektare merupakan lahan persemaian.

“Kerugian pertanian akibat banjir mencapai Rp 7,1miliar lebih,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Edy Bintarjo, Jumat (8/3).

Ia mengakui, jumlah kerugian akibat bencana itu yang ditanggung petani cukup besar. Meski demikian Dinas Pertanian setempat belum menyatakan puso. Namun, katanya, jika nantinya mendekati masa panen terjadi puso, petani yang mengikuti asuransi tani akan mendapatkan ganti rugi Rp 6 juta per hektare.

“Sedangkan bagi petani yang tidak ikut asuransi, akan kami coba meminta bantuan benih ke provinsi karena ini terkena bencana banjir,” kata Edy.

Data BPBD setempat di posko penanganan bencana Kabupaten Madiun menyebutkan areal sawah yang paling banyak terendam banjir di Kecamatan Balerejo, yakni mencapai 147 hektare. Sisanya tersebar di areal sawah daerah lain, seperti Kecamatan Madiun, Wungu, dan Pilangkenceng.

Hasil pendataan BPBD Kabupaten Madiun pada Jumat, jumlah wilayah yang terdampak banjir mencapai 12 kecamatan, 52 desa, 5.707 KK, 497 hektare lahan pertanian, 5.024 pemukiman rusak ringan, dan 62 pemukiman rusak berat.

Kecamatan yang terdampak tersebut, antara lain Madiun, Saradan, Balerejo, Pilangkenceng, Sawahan, Mejayan, Wungu, Wonoasri, Gemarang, Kebonsari, Kare, dan Dagangan. (Riz/Aza/INI-Network)indonesiainside

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...