Balasan Telak Diplomat RI ke Vanuatu: Kenapa Diam Saja saat Nakes dan Guru Dibantai KKB?

322
Sekretaris Ketiga Perwakilan Tetap RI New York, Sindy Nur Fitry

Negeri Vanuatu kembali melancarkan serangan ke Indonesia terkait pelanggaran HAM di Papua. Menariknya, diplomat Indonrsia memberi balasan telak.

Masalah pelanggaran HAM itu disampaikan Vanuatu dalam sidang umum PBB. Indonesia pun membalas dengan mempertanyakan sikap Vanuatu yang diam saja atas pembantaian terhadap guru dan tenaga kesehatan (nakes) oleh KKB di Papua.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Ketiga Perwakilan Tetap RI New York, Sindy Nur Fitry.

Jawaban itu merupakan tanggapan atas pernyataan Perdana Menteri Republik Vanuatu Bob Loughman yang meminta Komisaris HAM PBB datang mengecek kondisi di Papua Barat.
Sindy Nur Fitry mengatakan bahwa Vanuatu terus mengusik kedaulatan negara lain. Padahal, menurutnya, tudingan Vanuatu itu tidak berdasar.

“Saya terkejut bahwa Vanuatu terus-menerus menggunakan forum yang mulia ini untuk mengusik kedaulatan dan integritas wilayah negara lain.

 

Serta terus melakukan agresi dengan maksud tercela dan motif politik untuk melawan Indonesia,” kata Sindy dalam Sidang Umum PBB, seperti dilihat dari Channel YouTube Kemenlu, Minggu 29 September 2021 dikutip via detikcom

Sindy mengatakan Vanuatu hanya berpura-pura peduli pada isu-isu HAM. Namun, Vanuatu justru menutup mata atas tindakan teror kelompok kriminal bersenjata.

“Vanuatu berupaya mengesankan diri, seolah-olah negara ini ‘peduli’ terhadap isu-isu HAM. Pada kenyataannya, HAM versi mereka diputarbalikkan.

 

Dan sama sekali abai terhadap tindak teror keji serta tidak manusiawi yang dilakukan oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKB),” kata Sindy.

“Vanuatu secara sengaja menutup mata ketika kelompok kriminal separatis bersenjata ini membunuh para perawat, tenaga kesehatan, guru, pekerja konstruksi dan aparat penegak hukum,” sambungnya.

Sindy juga mempertanyakan mengapa Vanuatu diam ketika guru dibantai oleh KKB. “Ketika para guru dibantai tanpa belas kasihan, mengapa Vanuatu memilih diam?” katanya.

Dia meminta agar masalah Papua dilihat secara utuh. Semata-mata agar tak tersesat.

“Seluruh warga negara kami diperlakukan setara tanpa memandang latar belakang sosial budaya, agama, atau ekonomi. Bukalah mata Anda, dan lihat gambar utuhnya, lihatlah semuanya, atau Anda akan tersesat,” jelasnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here