Baiknya Lakukan Tes Massal “PCR Corona RI Nyalip Corona China”

360
COVID-19

Kasus corona di Indonesia terus bertambah setiap harinya. Bahkan, jumlahnya kini sudah menyalip kasus corona di China, tempat awal mula virus ini ditemukan dan menyebar. Untuk menekan penyebaran, pemerintah disarankan salah satunya segera melakukan tes massal Polymerase Chain Reaction (PCR).

Kemarin, jumlah kasus corona di sini bertambah 1.752 orang. Total kasus mencapai 84.882. Yang sembuh 43.268 orang, yang meninggal 4.016 jiwa. Sementara itu, berdasarkan data Worldometers, hingga kemarin, jumlah kasus corona di China hanya 83.644. Yang sembuh 78.758 dan yang meninggal 4.634 jiwa.

Worldometers adalah penyedia data statistik corona di dunia. Sejumlah negara menggunakan Worldometers sebagai referensi, seperti Inggris, Thailand, Pakistan, Sri Lanka, Vietnam, Financial Times, Center for Systems Science and Engineering (CSSE) Johns Hopkins University.

China sudah melakukan tes lebih dari 90 juta warganya, atau rasio 62.814 per 1 juta penduduk. Sementara di Indonesia baru 1,2 juta lebih, dengan rasio 4.389 per 1 juta penduduk. Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay menilai, kinerja pemerintah dalam menangani pandemi corona belum maksimal. “Perlu dievaluasi,” katanya sambil menyebut, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan penerapan Adap tasi Kebiasaan Baru (AKB) membuat jumlah kasus positif terus bertambah.

Karena itu, kata Saleh pengetesan massal PCR sangat penting. Upaya ini bisa dikatakan sebagai ikhtiar memetakan penyebaran corona. Selain itu, tes massal dapat dilakukan untuk kepentingan akademik karena pemerintah harus tahu keberadaan klaster baru penyebaran corona ini.

Uniknya, saat ini alat tes deteksi corona menjadi komoditas bisnis. Baik rapid test maupun PCR mulai digemari kalangan pengusaha. Harganya pun beragam. Bukan hanya di fasilitas kesehatan, saking mudahnya alat ini disa dijumpai di platform e-commerce.

Berdasarkan data yang didapat Rakyat Merdeka, tes PCR atau sejenisnya dibanderol 50 dolar AS atau setara Rp 750 ribu dengan kurs Rp 15.000. Dengan nominal ini, mestinya tidak ada masalah dari sisi anggaran, sekalipun yang dites mencapai 10 juta. Jika dihitung total Rp 750 ribu dikali 10 juta hanya Rp 7,5 triliun, atau sekitar 1,1 persen dari anggaran penanganan corona yang Rp 677,2 triliun.

Saleh mengamini, angka ini masih terlalu kecil untuk sebuah kesehatan. Saking geramnya, dia mengatakan, seharusnya tes deteksi corona gratis untuk masyarakat. Karena banyak aturan yang mewajibkan rapid test atau PCR dalam berbagai kegiatan. Salah satu contohnya saat bepergian menggunakan pesawat.

“Dari segi anggaran mestinya mampu. Kan anggarannya besar. Ini bukan yang Rp 677,2 triliun, tapi Rp 905 triliun. Masa untuk penanganan kesehatan cuma Rp 75 triliun. Kan kecil banget. Sisanya mau ke mana? Bikin infrastruktur, ya gak boleh dong. Masa pemerintah begitu. Yang diupayakan jaga keselamatan rakyatnya dulu,” pinta Saleh.

Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Pemerintah Indonesia untuk penanganan corona, Achmad Yurianto hemat bicara. “Jika bicara anggaran, saya tidak menguasai,” jawabnya, simpel.

Pria yang akrab disapa Yuri itu juga tidak sepakat dengan tes massal yang dilakukan beberapa negara seperti China dan Korea Selatan. “Jika bicara arahan kebijakan, tes itu massif, bukan massal,” tegasnya.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai, upaya masyarakat mendeteksi corona secara mandiri tidak efektif. Karena bisa saja hari ini negatif, namun positif beberapa hari kemudian. Sehingga, pemanfaatan PCR harus diatur pemerintah.

“Buat apa masyarakat ngetes (sendiri) itu yang membuat harga PCR mahal. Karena semua orang mau tes, tapi sebenarnya gak ada gunanya. Kecuali dia yang kontak sama yang positif,” terang Pandu. [MEN]

Sumber Berita / Artikel Asli : RMCO

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...