Bahas Ucapan Kontroversial Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Wasekjen MUI di ILC: Insaflah Wahai Manusia

378

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zaitun Rasmin buka suara soal pernyataan kontroversi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi.

Dilansir TribunWow.com dari tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (18/2/2020), Zaitun Rasmin bahkan mengimbau Yudian Wahyudi untuk segera insaf.

Hal itu berkaitan dengan ucapan Yudian Wahyudi yang menyebut agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Menurut Zaitun Ramin, pernyataan Yudian Wahyudi itu kembali memancing kericuhan masyarakat.

“Ini tentu menjadi suatu semacam dentuman di tengah-tengah upaya untuk membangun persatuan,” ucap Zaitun Ramin.

“Untuk membangun ‘rekonsiliasi’ atau ketenangan umat setelah hiruk pikuk Pilpres.”

Zaitun Ramin pun menyinggung sejumlah kontroversi yang ditimbulkan oleh para menteri di kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

“Sebetulnya sebelumnya sudah ada dari beberapa pernyataan misalnya ada anggota kabinet, semua orang sudah tahu,” terang Zaitun Ramin.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-AdAsia’); });

“Sudah mulai tenang sedikit tiba-tiba ada lagi ini.”

Terkait hal itu, bahkan Zaitun Ramin menilai rezim ini seolah sudah kebingungan dalam memilih sosok pejabat.

Karena itu, ia pun mengkritik keras pernyataan kontroversial Yudian Wahyudi.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zaitun Rasmin dalam tayangan Indonesia Lawyers Club, Selasa (18/2/2020).
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zaitun Rasmin dalam tayangan Indonesia Lawyers Club, Selasa (18/2/2020). (YouTube Indonesia Lawyers Club)

“Sehingga ada saja orang-orang, ada yang mengatakan jangan-jangan memang rezim agak bingung nih bagaimana memilih pejabat, ada yang bilang seperti itu,” ujar Zaitun Ramin.

“Tapi kita fokus pada pernyataan Pak Yudian, termasuk juga ralatnya.”

Menurut dia, pernyataan maupun klarifikasi yang disampaikan Yudian Ramin itu sama sekali tak berhubungan.

“Itu kan jelas-jelas pernyataannya, jelas pernyataan itu,” ujarnya.

“Lihat konteksnya 39 menit, saya terpaksa nih walau sangat sibuk lihat lagi dari awal.”

Lantas, Zaitun Ramin menyampaikan sebuah perumpaan untuk menggambarkan klarifikasi Yudian Wahyudi yang dinilai tak nyambung.

“Semua penjelasan itu tidak berkaitan, kalau halusnya ini seperti kita waktu masuk perguruan tinggi, pernyataan salah, alasan salah, tidak ada hubungan,” terang Zaitun Ramin.

“Yang agak sedikit bombastis orang muda katakan ‘Jaka sembung bawa golok, tidak nyambung.'”

Lebih lanjut, Zaitun Ramin mengimbau Yudian Wahyudi insaf dan kembali ke jalan yang benar.

“Jadi saya kira sangat jelas ralat itu pun sebetulnya lebih banyak kata orang ngeles,” ucapnya.

“Lebih bagus kalau insaflah wahai manusia jika dirimu bersalah.”

Simak video berikut ini dari menit awal:

 

Debat dengan Ali Ngabalin

Pada kesempatan itu, sebelumnya perdebatan terjadi antara Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI, Zaitun Ramin, dengan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden, Ali Ngabalin.

Dilansir TribunWow.com, perdebatan itu terjadi setelah Zaitun Ramin menegur Ali Ngabalin karena dianggap salah menggunakan ayat Alquran.

Bahkan, Presenter Karni Ilyas sampai menegur Ali Ngabalin karena terus mendebat Zaitun Ramin.

Mulanya, Zaitun Ramin menyinggung pernyataan Ali Ngabalin yang dianggap merendahkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi.

Disebutnya, Ali Ngabalin seolah menganggap Yudian Wahyudi adalah orang fasik.

“Jadi tabayun itu apa sih? Salah-salah Pak Ngabalin ini telah merendahkan Prof Yudian kalau itu orang fasik,” ucap Zaitun.

Tak hanya Yudian Wahyudi, Ali Ngabalin bahkan disebutnya juga menganggap media sebagai kumpulan orang-orang fasik.

“Kalau bukan Pak Yudian berarti media, apa media ini mau dikatakan orang-orang fasik?,” tanya Zaitun.

Menurutnya, tak layak jika Ali Ngabalin justru menyalahkan media karena pernyataan kontroversial Yudian Wahyudi.

Diketahui, sebelumnya Yudian Wahyudi menyatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila.

“Inilah kesalahan kita selama ini, saya Alhamdulillah termasuk kalau ada pemberitaan yang tidak bagus pada kami, kami tidak mau langsung menyalahkan media,” kata Zaitun.

“Dan di zaman ini bukan lagi zaman bahela, bukan zaman dulu.”

Terkait hal itu, Zaitun pun mengimbau Ali Ngabalin agar tak selalu menyalahkan media atas pemberitaan yang dimuat.

“Ini semuanya terbuka, jangan selalu merasa media memelintir,” terangnya.

“Ini kan terbuka, rekaman ada, di YouTube ada semua orang tahu.”

Lantas, Zaitun pun mengimbau Ali Ngabalin untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan ayat Alquran.

“Jadi siapa yang fasik di sini? Hati-hati, so mohon maaf hati-hati pakai ayat,” imbaunya.

“Jadi kalau di sini siapa yang fasik? Apakah termasuk ILC sekarang?”

Menanggapi teguran Zaitun, Ali Ngabalin yang tak terima pun langsung angkat bicara.

Ali Ngabalin justru menanyakan soal perngertian amal fasik kepada Zaitun.

“Apa itu amal fasik?,” sahut Ali Ngabalin.

Namun, belum sampai Zainudin menjawab, Karni Ilyas langsung mencoba menengahi.

Karni Ilyas menyebut tak ingin kedua tokoh itu terlibat perdebatan.

“Eh eh, saya maunya ini diskusi, eh saya maunya diskusi bukan bertengkar,” sahut Karni Ilyas.

“Dengar dulu, dengar dulu.”

Bukannya diam, Ali Ngabalin justru kembali menjawab teguran Zaitun.

“Iya, kalau Anda menolak konsep ayat itu, kalau Anda menolak ayat fasik itu,” kata Ali Ngabalin.

(TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)

Comments

comments