Andi Arief: Mending Tinggalkan Koalisi Kardus Ketimbang Masuk Lumpur Politik PAN, PKS dan Gerindra

1107
Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membalas kunjungan Ketum Gerinda Prabowo Subianto

JAKARTA – Koalisi oposisi diduga kuat tak akan diperkuat duet Demokrat dan Gerindra, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto.

Pasalnya, koalisi tersebut disinyalir akan bubar di tengah jalan setelah keduanya tak menemui titik temu.

Hal itu awalnya terungkap dalam cuitan politisi Partai Demokrat Andi Arief pada Rabu (8/8/2018) sekitar pukul 21.30 WIB.

Wasekjen Partai Demokrat itu mengungkapkan, gagalnya koalisi itu dikarenakan ada aliran dana ke Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Andi menyebut, dua parpol itu mendapat ‘sogokan’ uang 500 miliar dari Sandiaga Uno.

Demikian diungkap Andi Arief kepada awak media, Rabu (8/8/2018).

Sodoran uang dalam jumlah besar itu, untuk memulsukan langkah Sandiaga menjadi cawapres mantan menantu Presiden Soeharto tersebut.

Demikian disampiakan Andi Arief kepada awak media, Rabu (8/8/2018).

“Sandi sanggup membayar masing-masing per parpol Rp 500 miliar demi pilihannya untuk menjadi cawapres. Benar-benar jenderal di luar dugaan,” katanya.

Andi mengungkapkan, Prabowo dan SBY sebelumnya melakukan pertemuan pada Selasa (7/8) malam.

Dalam pertemuan itu, lahir sejumlah kesepakatan-kesepakatan terkait Pilpres 2019 mendatang.

Ironisnya, kesepakatan itu justru berubah hanya dalam hitungan jam saja.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya menegaskan bukan tak mungkin Demokrat meninggalkan Gerindra sekaligus PKS dan PAN.

“Besar kemungkinan kami akan tinggalkan koalisi kardus ini,” tegasnya.

Kendati demikian, Andi tak merinci langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan partai berlambang bintang mercy tersebut.

 

“Lebih baik kami konsentrasi kepada pencalegan ketimbang masuk lumpur politik PAN, PKS dan Gerindra,” tegasnya.

Sebelumnya, Andi Arief bercuit dan menumpahkan kemarahan serta kekecewaannya Rabu (8/8/2018) sekitar pukul 21.30 WIB.

Bahkan, anak buah SBY itu sepertinya sangat emosi dengan kelakukan Ketua Umum Partai Gerindra itu dengan menyebutnya sebagai ‘chiken’.

‘Chiken’ sendiri kerap diakronimkan sebagai penggambaran seorang yang memiliki sifat pengecut.

Andi menyatakan, dirinya sejak dulu sudah ragu dengan komitmen mantan menantu Presiden Soeharto itu.

“Sejak dulu saya ragu apakah gelegar suaranya sama dengan mentalnya. Dia bukan strong leader, dia chicken,” cuitnya.

Tak hanya itu, Andi Arief juga menyebut mantan Danjen Kopassus itu sebagai sosok jendral kardus.

“Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan,” cemoohnya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah tak membutuhkan penjelasan apapun dari Prabowo.

“Bahkan keinginan dia menjelaakan lewat surat sudah tak perlu lagi,” katanya,

Selain itu, ia juga menilai Prabowo sebagai sosok yang mata duitan.

“Prabowo lebih menghatgai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus,” tulisnya.

Dengan peringai seperti itu, sambunganya, menunjukkan bahwa Prabowo memiliki kualitas yang buruk.

“Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan,” sambungnya.

Akan tetapi, sikap sebelumnya itu lantas berubah hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Gara-garanya, hanya karena disodori uang dari Sandiaga Uno untuk menyenangkan PAN dan PKS.

“Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang sandi uno untuk mengentertain PAN dan PKS,” katanya.

Dengan keadaan tersebut, Andie Arief menyatakan Demokrat sama sekali tak cocok dengan cara-cara tersebut.

“Partai Demokrat tidak alami kecocokan karena Prabowo dalam menentukan cawapresnya dengan menunjuk orang yang mampu membayar PKS dan PAN,”

“Ini bukan DNA kami,” tutupnya.

(ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here