Amit-amit, Kasus Suap Meikarta, Bupati Bekasi Paksa Janinnya Sendiri Rasakan Penjara

1853
Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin tiba di gedung KPK, usai dijemput untuk diperiksa sebagai tersangka kasus suap Meikarta, Senin (15/10/2018) malam

BEKASI – Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasmin akhirnya kelar menjalani pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap megaproyek Meikarta.

Neneng turun dari lantai dua gedung Merah Putih sekitar pukul 19.45 WIB, Selasa (16/10/2018).

Kali ini, Neneng juga langsung diberi ‘hadiah’ rompi kuning khas tahanan lembagaantirasuah itu.

Menghindari awak media dan tak menggubris satu pun pertanyaan, Neneng memilih langsung masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.

Wakil Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja mengaku prihatin dengan kasus yang menimpa Neneng itu.

Apalagi, Neneng saat ini tengah mengandung anak keempatnya.

“Karena kan posisi bupati sedang hamil dan segala macam,” kata Eka, Selasa (16/10/2018).

Eka mengaku mengetahui kabar bupatinya dijemput penyidik KPK saat dirinya berada di Bogor, Jawa Barat.

“Pagi-pagi saya ada acara TMMD. Siang harinya saya juga baru sampai Cabangbungin. Saya langsung menghadiri Porda di Bogor,”

“Di sana baru mendapatkan kabar bahwa terjadi ini,” katanya.

Untuk diketahui, Neneng Hasanah Yasin sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap perizinan Meikarta di Bekasi, Jawa Barat.

Ia bersama empat anak buahnya diduga menerima uang suap sebesar Rp7 miliar dari Rp13 miliar yang sudah dijanjikan.

Kasus suap itu sendiri juga menetapkan Direktur Operasional Lippo Grup Billy Sindoro dan tiga anak buahnya sebagai tersangka.

Total, lembaga antirasuah itu menetapkan sembilan orang sebagai tersangka dalam kasus suap tersebut.

Untuk para pemberi suap dijerat pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20/2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan para penerima suap, dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 128 Undang Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20/2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Untuk diketahui, KPK sebelumnya melakukan operasi tangkap tangan di dua tempat berbeda, yakni Bekasi dan Surabaya.

Operasi senyap itu dilakukan pada Minggu (14/10) siang sampai dengan Senin (15/10) dini hari.

Selain mengamankan sejumlah orang, lembaga pimpinan Agus Rahardjo itu juga menyita barang bukti yang didapat dalam OTT.

Yakni uang tunai 90 ribu dolar Singapura dan uang dalam pecahan Rp100 ribu dengan total Rp513 juta.

KPK juga mengamankan dua unit mobil Toyota Avanza dan Toyota Innova.

(JPG/ruh/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here