AKP Sulman Aziz ‘Bernyanyi’: Baru di Pilpres 2019 Ada Perintah Menangkan Salah Satu Paslon

671

 JAKARTA – AKP Sulman Aziz blak-blakan atas nasib yang menimpa dirinya. Ia dipecat dari jabatannya sebagai Kapolres Pasirwangi, Garut, lantaran berfoto dengan pendukung Prabowo-Sandi.

Demikia disampaikan Sulman kepada wartawan di Kantor Lokakataru, Jakarta, Minggu (31/3/2019).

“Saya telah dimutasi dari jabatan saya sebagai Kapolsek ke Polda Jabar,” tuturnya.

Diakui Sulman, sebelumnya sudah ada perintah untuk menggembosi suara dan konsentrasi massa yang mendukung paslon 02.

Sulman pun tidak habis pikir dengan perintah tersebut. Pasalnya, pengalaman dia sejak pertama menjadi polisi belum pernah ada perintah aparat berpihak pada satu kontestan Pemilu.

“Saya ini sudah 27 tahun menjadi polisi, saya sudah ditugaskan ke mana mana, baru di 2019 ini, di Pilpres 2019 ini, ada perintah untuk berpihak kepada salah satu calon,” katanya.

Sulman juga mengakui bahwa dirinya memang benar berfoto dengan pendukung Prabowo-Sandi.

“Saya berfoto dengan seorang tokoh agama Kecamatan Pasirwangi yang kebetulan beliau itu sebagai ketua panitia deklarasi Prabowo-Sandi,” lanjut Sulman.

Akibat hal tersebut, ia kini dimutasi menjadi Kanit Seksi Pelanggaran Subdit Gakkum Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Barat.

Dijelaskan Sulman, bahwa dia mengambil foto tersebut hanya sebatas untuk laporan kepada Kapolres Garut bahwa giat pengamanan dilakukan dengan koordinasi bersama panitia.

“Saya berfoto sambil membuat laporan untuk melaporkan kepada Kapolres bahwa saya berkoordinasi dengan panitia,” ungkapnya.

Sebelumnya, beredar tangkapan layar percakapan grup Whatsapp (WA) polisi yang mendukung pasangan Jokowi-Maruf Amin.

Foto tersebut diunggah J.S. Prabowo di akun @marierteman pada Jumat, 29 Maret 2019.

“Chat ini beredar luas. Jika benar, Polri sudah tidak netral. Cara seperti ini indikasi kuat Prabowo hanya bisa dikalahkan dengan kecurangan,” katanya.

Postingan J.S. Prabowo diretweet oleh Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Ia meminta agar pihat terkait menyelidiki chat tersebut.

“Agar pihak2 terkait, berkewenangan, peduli dg legitimasi Pemilu, sgra selidiki, klarifikasi dan koreksi,” kata Hidayat, Jumat (29/3/2019).

“Apalagi sudah ada telegram Kapolri yg perintahkan kpd seluruh jajaran Polri unt bersikap dan berprilaku netral, dan tidak memihak kpd salahsatu pasangan, dlm bentuk apapun,” Hidayat.

Diduga, semua anggota grup WA itu adalah anggota Polri dari jabatan kapolsek hingga kapolres di salah satu daerah.

Grup WA tersebut memiliki 43 anggota di daerah Bima. Percakapan di grup itu dibocorkan oleh salah satu anggota yang telah dikeluarkan dari grup tersebut.

Chat di grup WA itu kemudian disebar ke media soial. Dalam screenshot chat terdapat perintah dari seorang kapolres kepada para kapolsek untuk membantu memenangkan pasangan capres nomor urut 01.

Polisi berpangkat AKBP dengan inisial EA itu menegaskan, para kapolsek akan dievaluasi jika di wilayahnya pasangan 01 kalah.

Ia memerintahkan agar para kapolsek untuk memasang baliho di setiap desa dan keluarahan.

“Para kapolsek tolong agar buat baliho 01 di tiap-tiap desa/keluarhan. Minimal 1 baliho per desa/kelurahan. Dan kirim laporannya di group ini. Trims,” imbuhnya.

Sementara seorang polisi berpangkat aiptu meminta para kapolsek untuk memerintahkan Babinkamtibmas di masing-masing wilayah untuk bersinergi dengan Babinsa dalam menciptakan efek cipta kondisi di lapangan.

Selain itu, para kapolsek juga diminta mendekati tokoh masyarakat yang memiliki massa paling banyak di setiap desa.

Belakangan, Kapolres Bima Kota, AKBP Erwin Ardiansyah memastikan itu adalah hoaks.

Kini ia mengejar pembuat chat palsu itu.

Dalam keterangan tertulis AKBP Erwin, menegaskan screenshot grup polisi yang diberi nama Pilpres 2019 itu adalah editan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.

Erwin merasa geram karena dalam percakapan itu ada namanya yang memerintahkan kapolsek untuk memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019. Ia dengan tegas membantah semua isi percakapan itu.

“Kami tegaskan bahwa Polri tetap bersikap netral dalam Pemilu 2019. Tugas kami hanya untuk mengamankan jalannya pesta demokrasi,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Jumat (29/3/2019).

(jpg/ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here