3 Tahun Jokowi-JK: Rizal Ramli Soroti Beban Utang dan Pengetatan Anggaran

132
Rizal Ramli

Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli mengapresiasi 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK yang menerapkan kebijakan pembangunan tak lagi hanya berfokus di pulau Jawa (non Jawa sentris).

Kendati demikian, pemilik jurus rajawali ngepret ini juga tetap mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah.  Di antaranya pembayaran bunga utang yang telah menyedot lebih dari Rp500 triliun APBN. Selain itu, ia juga mengkritik kebijakan pengetatan anggaran yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Jadi aneh pemerintah ini yang hanya bisa melakukan kebijakan austerity atau pengetatan. Di saat ekonomi sedang slow down mereka justru melakukan pengetatan. Ini model kebijakan Bank Dunia,” tegas Rizal, Kamis (28/9).

Padahal kebijakan ini terbukti gagal di banyak negara. Di negara-negara Amerika Latin dan Yunani kebijakan ini justru memperparah perekonomian negara-negara itu.

“Yunani pernah melakukannya tiga kali. Dilakukan pertama ekonomi malah melambat dan daya beli makin anjlok. Paket austerity yang kedua sama, makin sulit dan sampai tiga kali,” kata Rizal

Makanya, tahun lalu, Menteri Ekonomi Yunani meminta dirinya untuk memberi masukan agar tak tergantung dengan kebijakan austerity tsb. Karena Rizal memang terkenal dalam menghadapi Bank Dunia dan IMF.

“Saya sarankan beberapa hal termasuk saya tulis memo ke Perdana Mentri. Saya anjurkan cara lain,” ceritanya.

Nah, saat ini di Sri Mulyani justru menerapkan kebijakan austerity. Ini sama saja seolah pemerintah mau meng-gas ekonomi sampai kecepatan 60-70 kilomter, ibarat sebuah kendaraan, tapi menggunakan gigi satu. Sehingga semakin digenjot, semakin panas dan risikonya itu semakin tinggi.

“Tapi masalahnya, banyak pihak seperti kalangan akademisi dan pimpinan media nasional menganggap pemerintah tak memiliki alternatif lain kecuali dengan austerity,” dia menjelaskan.

Padahal di negara seperti AS, Eropa, China kalau mereka mengalami perlambatan ekonomi malah mereka pompa ekonominya, bukan diketatkan. Pada krisis 2008 di AS mereka memompa fiskal dan kreditnya dengan melalui “quantitive easing”.

Negara yg canggih ketika ekonomi melambat, akan memompa, bukan melakukan pengetatan. Karena kalau diketatkan tak mungkin ekonomi membaik. “Sekarang ekonomi lagi susah malah pengusaha dikejar-kejar. Jelas makin anjlok,” ucapnya.Dia menegaskan, selain austerity justru kebijakan yang tepat adalah melakukan “growth story” yakni strategi memacu pertumbuhan ekonomi. Hal itu dilakukannya saat menjadi Menko di era Gus Dur. Dan faktanya bisa menggenjot perekonomian dari minus 3 menjadi plus 3 selama 1,5 tahun.(mr/akt)


*Repelita Online merupakan wadah untuk menyalurkan ide/gagasan/opini/aspirasi warga. Setiap opini/berita yang terbit di Repelita Online yang merupakan kiriman dari penulis merupakan tanggung jawab dari Penulis.
Join @Repelita Channel on Telegram

comments

Loading...
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here